Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Polusi Udara di China Berpotensi Kurangi Hidup 25 Bulan

Silviana Dharma , Jurnalis-Sabtu, 02 Juli 2016 |03:03 WIB
Polusi Udara di China Berpotensi Kurangi Hidup 25 Bulan
Ibu dan Anak menghindari polusi udara di Shenyang, Provinsi Liaoning. (Foto: Reuters)
A
A
A

BEIJING – Akibat terpapar polusi udara parah di China, diperkirakan harapan hidup penduduknya berkurang hingga 25 bulan. Laporan ini datang dari Badan Energi Internasional yang juga mencatat hampir 97 persen rakyat China terdampak konsentrasi partikel kecil yang berbahaya bagi kesehatan dengan konsentrasi 2,5 materi kepartikelan.

Kadar konsentrasi materi partikel tersebut sudah termasuk sangat mematikan. Bahkan di Eropa saja, rata-rata harapan hidupnya dikatakan berpotensi lebih rendah 8,6 bulan. Itu berarti China sudah tiga kali lipat lebih mematikan dari negara-negara di Eropa.

Mengutip dari South China Morning Herald, Sabtu (2/7/2016), setiap tahun sekira 1,2 juta kematian prematur di Negeri Tirai Bambu dapat dikaitkan dengan pencemaran udara, yakni yang berasal dari industri rumah tangga. Termasuk memasak dan penggunaan bahan bakar berkualitas rendah untuk menghangatkan makanan yang sudah dingin.

Polusi udara secara global memang menjadi salah satu penyebab utama krisis kesehatan di masyarakat. Sedikitnya 6,5 juta orang di dunia meninggal lebih awal dari yang diperkirakan.

“Ini bukan kesalahan, tetapi sudah tergolong kriminal. Sektor energi dalam hal ini harus mengambil langkah yang lebih konkret untuk membatasi emisi,” kata Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional, Fatih Birol, saat berada di Beijing, Rabu 29 Juni 2016.

Menurut Birol, sementara pemerintah juga sedang mengupayakan pengurangan gas emisi yang berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan, angka kematian prematur tetap bisa meningkat karena manusia sangat rentan terhadap dampaknya.

(Silviana Dharma)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement