nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Duterte Sebut Senator Filipina Perempuan Jalang

Silviana Dharma, Jurnalis · Jum'at 19 Agustus 2016 13:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 08 19 18 1467720 duterte-sebut-senator-filipina-perempuan-jalang-lo0p5tnlQi.jpg Duterte (kiri) dan Leila de Lima (kanan). (Foto: Filipinewsph)

MANILA – Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyebut Senator Leila de Lima sebagai perempuan jalang. Julukan itu diujarkan Duterte karena ia sangat marah pada lawan politiknya itu.

Presiden yang dikenal dengan nama ‘The Punisher’ itu mencurigai de Lima terlibat dalam kasus narkoba. Dia menuding perempuan pengacara itu berkomplot dengan sopirnya untuk mengeruk keuntungan dari penjualan obat terlarang dan memakainya sebagai dana kampanye di pemilihan presiden pada Mei.

“Jujur saja, saya tidak akan pernah mengatakan di sini kalau si sopir menyerahkan uang itu (secara langsung) kepadanya. Tapi dari tampangnya, saya yakin dia (de Lima) memang mendapatkannya. Saya sih kasihan sama istri si sopir, karena rumah tangganya dibangun dari uang haram,” ujar Duterte, sebagaimana disitat dari CNN, Jumat (19/8/2016).

Seperti diketahui, mantan Wali Kota Davao itu sedang gencar memerangi narkoba. Namun, kebijakan tembak mati di tempat untuk para pengedar narkoba telah mengundang kritik keras dari kubu oposisi dan aktivis HAM. Salah satu pengkritiknya yang paling vokal adalah Leila de Lima.

Menanggapi pernyataan Duterte, senator Filipina itu mengaku tidak mau ambil pusing. “Kami berdua sama-sama profesional,” ujarnya.

Hanya saja, perempuan mantan Menteri Kehakiman ini menyayangkan kalimat sekasar itu harus keluar dari mulut seorang kepala negara. Apalagi, hal itu diutarakannya di depan umum.

Duterte menyebut Lima sebagai perempuan jalang pada peringatan 115 tahun Polisi Filipina. Selain polisi, acara itu juga dihadiri mantan Presiden Fidel Ramos dan Duta Besar China di Manila Zhao Jianhua.

De Lima dan Duterte diketahui telah lama bertentangan di dunia politik. De Lima memiliki latar belakang pejuang hak asasi manusia, sementara Duterte lebih suka menggunakan kekerasan demi mengamankan negaranya yang terkenal brutal.

(Sil)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini