Hal itulah yang juga dirasakan oleh Erwin Escalante (37). Dia ditangkap 15 tahun yang lalu dan proses hukumnya belum selesai hingga saat ini. Kepada ITV, Rabu (24/8/2016), dia mengaku sangat merindukan keluarganya. Ia sadar tak bisa seperti orangtua lain yang dapat menyaksikan anak mereka tumbuh besar.
“Mereka (keluarga) mengunjungi saya di penjara. Saya selalu memasang senyum, tetapi ketika saya kembali kemari (ke kamarnya), melihat tempat tidur ini, saya menangis. Sulit, rasanya sungguh sulit,” ungkapnya.
(Baca juga: Penjara Filipina Penuh, Tahanan Tidur Sambil Berdiri)
Erwin juga menuturkan kondisi di penjara kini lebih menyedihkan. Perubahan itu sangat terasa dalam dua bulan terakhir.
“Kondisinya sudah tak manusiawi lagi. Sekarang ada 160 narapidana di sini, tetapi selnya hanya ada enam. Dengan luas penjara 55 meter persegi. Menurut buku hak asasi manusia yang saya baca, setiap narapidana selayaknya mendapat ruang empat meter persegi,” ujarnya.
Sementara di Manila, penjara mereka sudah tidak melebihi kapasitas, tetapi masih dipaksakan. Di Quezon, satu ruangan yang hanya cukup untuk 20 orang sekarang ditempati oleh 200 narapidana. Penyakit mewabah akibat kejadian tersebut. Makanan yang diperoleh pun menjadi sangat terbatas. Setiap orang hanya mendapat jatah makan tiga kali dalam sehari seharga satu poundsterling atau Rp17.472,27.
Seperti diberitakan sebelumnya, begitu padatnya ruangan, ada tahanan yang terpaksa tidur sambil berdiri. Kini pihak penjara memberikan sedikit keringanan dengan membiarkan pintu penjara terbuka, sehingga mereka bisa tidur di luar jeruji besi. Kebijakan tersebut membuat tahanan untuk berjongkok atau tidur di lantai yang dingin. (Sil)
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.