Juni 2016, Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) pernah mengimbau masyarakat agar selalu waspada mengahadapi banjir yang sewaktu-waktu akan datang. Hal itu, menurut BNPB bisa disebabkan karena fenomena La Nina diperkirakan akan memberikan pengaruh meningkatnya hujan. Dan diperkirakan hingga September, pada saat musim hujan diperkirakan curah hujan meningkat lebih besar sehingga potensi banjir di Jakarta akan meningkat.
Terlebih, sejumlah lembaga prakiraan cuaca di beberapa negara memprediksi fenomena La Nina akan datang lebih cepat pada tahun ini. Bahkan, Biro Meteorologi Australia menyatakan perubahan terkini terlihat di wilayah tropis Samudera Pasifik.
Jika dikombinasikan dengan prediksi model yang iklim pandangan saat ini, menunjukkan kemungkinan La Nina pada tahun 2016 telah meningkat menjadi sekitar 50 persen.
Melihat potensi tersebut, sudah seharusnya pemerintah daerah memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan dan menjadikan ini sebagai ancaman serius. Sebab apa yang terjadi Sabtu kemarin, pernah juga terjadi pada Februari 2015, dan Maret 2016. Ini bukan yang pertama.
Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Yayat Supriatna mengatakan, hujan dari Jakarta saja sudah terendam dan ini menunjukkan lumpuhnya sistem drainase di Jakarta. “Ini sungai masih aman. Kalau sampai sungai meluap ditambah hujan di tempat lain (kota penyangga), maka genangan akan terasa lebih lama," kata Yayat saat berbincang dengan Okezone.
Menurut Yayat, melihat fakta tersebut fakta tersebut menekankan kepada pemerintah untuk tidak mengklaim berhasil mengantisipasi banjir di Jakarta. Apalagi dengan sistem drainase yang buruk dinilai salah satu biang dari bencana musiman yang meresahkan warga ini.