Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Riwayat Buntet Pesantren dan Tragedi Sumpah Pemuda

Dwi Ayu Artantiani , Jurnalis-Selasa, 06 September 2016 |06:50 WIB
Riwayat Buntet Pesantren dan Tragedi Sumpah Pemuda
Masjid di Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat (Dwi Ayu/Okezone)
A
A
A

CIREBON - Pondok Buntet Pesantren di Blok Manis, Depok Pesantren Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, berperan besar dalam kemerdekaan Indonesia. Tragedi Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 juga erat kaitannya dengan pesantren itu.

Pondok Buntet Pesantren didirikan oleh Mbah Muqoyyim pada 1750 Masehi. Kisah bermula dari kekecewaan Muqoyyim yang sebelumnya menjabat penghulu di Keraton Kanoman Cirebon. Karena keraton berpihak ke kolonial Belanda, Muqoyyim akhirnya mengundurkan diri dari keraton dan mendirikan Pesantren Buntet.

Konon nama Buntet berasal dari peristiwa penculikan putri Raja Galuh bernama Puteri Dewi Arum Sari oleh Buto Ijo saat berbulan madu bersama suaminya Pangeran Legawa, putra Ki Ageng Sela. Puteri Arum Sari yang sedang mandi tiba-tiba diculik Buto Ijo dan dibawa ke hutan Karendawahana (diperkirakan sekitar Buntet sekarang).

Mbah Muqoyyim awalnya mendirikan Pesantren Buntet di Kedung Malang, Desa Buntet, Kecamatan Astanajapura, Cirebon. Ia membangun rumah sangat sederhana, langgar (surau), dan beberapa kamar santri. Banyak masyarakat yang tertarik untuk belajar mengaji ke Muqoyyim.

Belanda yang mengetahui kegiatan dan keberadaan Muqoyyim langsung menyerangnya. Mbah Muqoyyim bersama sahabatnya Kiai Ardi Sela lolos dari sergapan. Ia pun menuju Desa Pesawahan Sindanglaut, sekira 10 kilometer dari Pesantren Buntet.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement