JAKARTA – Siapa sangka sosok Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa dulunya dikenal tomboi dan suka ugal-ugalan, terutama ketika mengendarai sepeda motor.
“Dulu saya ingin sekali menjadi pembalap, suka nyetir motor sendiri. Kalau naik motor juga kencang, ugal-ugalan. Jadi kadang yang dibonceng takut kalau saya nyetir. Tapi sekarang jadi menteri, ya sudah takdir,” kata Khofifah dalam Diskusi Redbons di Kantor Redaksi Okezone, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (20/9/2016).
Mahalnya biaya untuk menjadi pembalap membuat Khofifah mengubur dalam cita-citanya itu. “Dulu sekira 1982-1983, saya tanya teman kakak saya yang juga jadi pembalap, katanya minimal punya uang Rp50 juta sekali balapan. Saya dapat uang dari mana kalau segitu,” ujarnya.
Namun, aksi nekat di atas motor tak lantas membuat ibu tiga anak ini juga ugal-ugalan di pentas politik. Ia bercerita, ketika medio 1992 pernah "dilamar" oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Golkar untuk mau menjadi anggota DPR RI.
“Saat itu saya sampaikan bahwa belum berpikir untuk menjadi politikus. Sampai tiba waktunya, Sekretaris PPP Jatim bilang ke saya, ‘Khof, mana berkasmu. Sore ini mau dibawa ke Jakarta lho’," kisahnya.
"Kemudian saya bilang kalau saya belum mengisi berkas apa-apa, tetapi oleh Sekretaris PPP Jatim itu saya disuruh isi seadanya saja. Jadi ya saya cuma isi nama alamat, ya kayak semacam biodata pribadi gitu,” sambungnya.
Khofifah mengatakan, ketika itu sistem pemilu masih tertutup sehingga membuat dia bisa melenggang sampai Senayan. “Saya waktu itu dapat nomor urut 10," imbuhnya.
Dikarenakan tidak memiliki obsesi menjadi politikus, sewaktu pengumuman berhasil jadi anggota DPR justru didapat dari wartawan. “Di usia 26 tahun, saya sudah menjadi anggota dewan,” tuturnya.
Perjalanan karier Khofifah mencapai puncak saat membacakan pandangan fraksi pada sidang umum MPR RI. Dengan bahasa yang vulgar, ia mengkritik pemerintahan Orde Baru.
“Ketua Umum PPP saat itu memberi saya keleluasaan untuk menyiapkan sendiri bahan yang akan dibacakan. Jadi bahasanya Khofifah banget, khas anak muda. Tapi itu objektif kok. Saya juga menyampaikan sisi positif Orde Baru juga,” katanya.
Saat membacakan pandangan fraksi, ia pun mendapatkan cemoohan dari para anggota dewan yang mayoritas diwakili oleh Partai Golkar dan ABRI. “Sidang umum itu kan prestis, sempat direspons negatif juga sama teman anggota dewan yang lain,” katanya.
Dari hal tersebut, Khofifah banyak belajar dunia perpolitikan di Indonesia. Menurutnya, politik Indonesia tidak indah karena yang dominan hanya satu warna. “Seharusnya kan ada warna merah, kuning, hijau, biru supaya indah. Itu yang saya sebut reformasi politik pada waktu zaman Orde Baru,” katanya.
Ketika menjadi Wakil Ketua DPR RI pada 1999, dirinya kemudian diminta menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan oleh presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Saya ditelefon Gus Dur untuk jadi menteri. Saya kaget, padahal sudah jadi Wakil Ketua DPR RI," ujarnya.
Meskipun sempat berpindah partai dari PPP ke PKB, dirinya menyatakan hengkang secara baik-baik. “Insya Allah tidak pernah ada masalah, dan hubungan saya dengan PPP sampai saat ini ya baik-baik saja,” katanya.
Lalu pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), saat ini dirinya menjabat sebagai Menteri Sosial. Tantangan di republik ini pun menunggu untuk segera diatasi tangan dinginnya.
(Angkasa Yudhistira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.