nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

WikiLeaks Ungkap Keterlibatan Duterte dalam Pembunuhan Massal Davao

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Senin 26 September 2016 10:07 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 09 26 18 1498536 wikileaks-ungkap-keterlibatan-duterte-dalam-pembunuhan-massal-davao-VnC1MdJ0oq.jpg Presiden Filipina Rodrigo Duterte diklaim mengakui keterlibatan dalam pembunuhan massal di Davao (Foto: Erik de Castro/Reuters)

MANILA – Presiden Filipina Rodrigo Roa Duterte kembali menjadi sorotan. Kali ini bocoran kawat diplomatik rahasia mengungkap keterlibatannya dalam pembunuhan massal di Davao. Sebelumnya mantan algojo Davao Death Squad, Edgar Matobato, mengakui sejumlah perintah Digong –sapaan akrab Duterte– saat menjabat sebagai Wali Kota Davao.

Kawat diplomatik bertanggal 8 Mei 2009 itu dibocorkan oleh WikiLeaks pada Minggu 25 September 2016. Kawat diplomatik ditulis oleh mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Filipina, Kristie Kenney, dengan mengutip pernyataan Direktur Regional Komisi Hak Asasi Manusia (CHR) Alberto Sipaco Junior.

Dokumen yang diberi judul ‘Wali Kota Akui Keterlibatan’ tersebut mengungkap pengakuan Duterte kepada Sipaco usai bertemu secara rahasia. Mantan pengacara itu mengetahui perihal serangkaian pembunuhan dan mengaku mengizinkan tindakan keji tersebut.

“Sipaco yang merupakan teman lama meminta Duterte menghentikan pembunuhan terhadap para kriminal. Dalam percakapan itu, Sipaco meminta Duterte melakukan metode lain untuk mengurangi angka kriminalitas seperti rehabilitasi,” tulis Kenney, seperti dimuat Asian Correspondent, Senin (26/9/2016).

“Sipaco mengatakan, Duterte menjawab, ‘Saya belum selesai.’ Sipaco juga mengemukakan sejumlah alasan, terutama pembunuhan itu bertentangan dengan hukum dan merugikan warga. Tetapi, Duterte tidak peduli dengan isu itu,” sambung tulisan Kenny.

Mengetahui bocoran Wikileaks tersebut, Istana Kepresidenan Filipina Malacanang menolak untuk berkomentar. Juru Bicara Malacanang, Martin Andanar, mengklaim belum melihat laporan itu. “Saya sudah menembuskan laporan itu ke kantor Kepala Staf Gabungan. Saya belum membaca isinya,” ujar Andanar, seperti dimuat Philstar.

Sebelumnya, Edgar Matobato mengungkap perintah Duterte untuk mengebom sejumlah masjid sebagai bentuk pembalasan serangan bom di Katedral Davao pada 1993. Davao Death Squad disebutnya telah membunuh sekira 1.000 orang dalam kurun waktu 25 tahun kepemimpinan Duterte.

Sejak diambil sumpah sebagai Presiden Filipina pada 30 Juni 2016, Duterte memang berjanji akan memberantas kriminalitas, termasuk narkoba dari Negeri Lumbung Padi. Sedikitnya 3.000 orang tewas dalam perang narkoba ala Duterte sepanjang tiga bulan terakhir. Tak pelak, kritikan tajam mengarah kepada Duterte dari komunitas internasional.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini