nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kontroversi Pengakuan Mantan Algojo Rodrigo Duterte

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Sabtu 17 September 2016 15:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 09 17 18 1491713 kontroversi-pengakuan-mantan-algojo-rodrigo-duterte-P3I3igqmpW.jpg Mantan algojo Pasukan Kematian Davao di bawah komando Duterte, Edgar Matobato (Foto: Ezra Acayan/Reuters)

RODRIGO Roa Duterte. Presiden Filipina yang menjabat sejak 30 Juni 2016 itu tidak jauh dari kontroversi. Ucapan, perilaku, dan kebijakannya kerap menjadi perbincangan. Pria asal Davao tersebut juga pernah mendirikan Pasukan Kematian (Davao Death Squad) saat menjabat sebagai wali kota.

Baru-baru ini seorang mantan algojo Dutere, Edgar Matobato, membuat geger seantero Negeri Lumbung Padi. Ia memberikan pengakuan mengenai tindakan-tindakan Digong –sapaan akrab Duterte– selama menjadi Wali Kota Davao selama tiga periode berbeda di hadapan Senat Filipina pada Kamis 15 September 2016.

Matobato mengakui bahwa Rodrigo Duterte pernah memerintahkan pengeboman masjid sebagai bentuk pembalasan serangan bom di Katedral Davao pada 1993. Duterte juga pernah memerintahkan Pasukan Kematian untuk membunuh empat ajudan mantan Ketua DPR Filipina Prospero Nograles serta Senator Leila da Lima.

Selain itu, Duterte juga diklaim pernah memerintahkan pembunuhan dua pria yang disebut-sebut sebagai musuh dari sang putra Paolo. Edgar Matobato mengatakan Pasukan Kematian Davao telah menghabisi sedikitnya 1.000 orang dalam kurun waktu 25 tahun kepemimpinan Duterte.

Pria berusia 57 tahun tersebut menuturkan, para korban dibunuh dengan cara dicekik, dibakar, dimutilasi, dan kemudian dikuburkan di sebuah tempat penggalian milik salah satu anggota Davao Death Squad. Bahkan, ada korban yang dilemparkan hidup-hidup ke laut untuk menjadi makanan buaya.

Tidak hanya itu, Duterte juga bahkan pernah turun tangan langsung menghabisi salah satu korbannya, seorang agen dari Biro Investigasi Nasional Filipina pada 1993. Usai baku tembak antara Pasukan Kematian dengan petugas dari Kementerian Kehakiman, Duterte tiba di lokasi dan langsung memberondong sang petugas yang masih hidup dengan senapan mesin.

Matobato juga mengungkap cara-cara sadis yang digunakan Pasukan Kematian Davao untuk menghabisi korban. Semula, tujuan pembentukan pasukan tersebut adalah untuk membasmi pelaku kriminal dan penjahat, tetapi lama-lama berkembang menjadi lawan politik, pengkritik, dan bahkan orang yang tidak disukai oleh Duterte.

Pasukan Kematian Davao akan menerima langsung perintah dari Duterte atau dari pejabat kepolisian Davao yang ditugaskan di kantor wali kota. Setelah perintah diterima, para korban diculik oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai petugas kepolisian. Korban dibawa ke sebuah lokasi penggalian di mana mereka dibunuh dengan sadis.

Selain pelaku kriminal, korban Duterte lain menurut pengakuan Edgar Matobato adalah seorang penyiar radio yang rajin melontarkan kritik, seorang warga negara asing yang dicurigai sebagai teroris internasional, dan kekasih dari adik perempuan Duterte.

Rodrigo Duterte sendiri pernah mengatakan bahwa wartawan tidak akan luput dari pembunuhan dalam perang melawan kejahatan. Ia pernah mengisahkan kasus pembunuhan wartawan bernama Jun Pala di Davao pada 2003 yang ditembak orang tidak dikenal. Secara kebetulan, Jun Pala adalah kritikus nomor satu Duterte. Kasusnya sendiri tidak pernah tuntas hingga saat ini.

Edgar Matobato mengeluarkan pengakuannya kepada Senat Filipina dalam rangka penyelidikan terhadap tewasnya sekira 3.000 orang dalam perang narkoba ala Duterte beberapa bulan terakhir. Matobato sendiri bersaksi di bawah perlindungan. Namun, permintaan proteksi ditolak karena nyawanya dinilai tidak berada dalam bahaya.

Juru Bicara Kepresidenan Filipina Ernesto Abella, meminta agar warga Filipina untuk tetap tenang. Ia memohon agar warga berpikir objektif terkait kesaksian Edgar Matobato dalam sidang dengar pendapat. Kesaksian dari Edgar Matobato pun dianggap sebagian pihak tidak kredibel karena kurangnya bukti nyata. Abella meminta tuduhan terhadap Duterte sebaiknya diselidiki lebih lanjut terlebih dahulu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini