Sementara Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito OFM mengatakan, jika diamati secara saksama, ukiran yang dipamerkan dalam Pesat Budaya Asmat sangat luar biasa dan sangat mengagumkan. Dimana, sebuah misteri dibuka lewat sebatang kayu yang sudah dibuang tetapi malah diciptakan sedemikian rupa sehingga menjadi berarti.
“Selain itu, lagu-lagu serta gerakan tariannya juga mengungkapkan ekspresi isi hati. Dimana, pikiran dari saudara-saudara kita yang mau menyampaikan dan mencurahkan isi hati dan pikiran juga pandangan mereka,” ujar Aloysius sebelum memberkati peserta.
Untuk itu, dia berpesan kepada para wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang menyaksikan Pesata Budaya Asmat ini, agar dapat menghargai karya seni masyarakat suku Asmat yang agung dan indah ini. “Dengan menghargai maka kita kemudian bisa mengubah sikap pandangan kita terhadap orang Asmat,” tuturnya.
Aloysius menambahkan, Pesta Budaya ini dapat mengangkat kesetaraan dari masyarakat asli suku Asmat. Selain itu, menjadi satu kesempatan untuk belajar dan menggali lebih dalam makna-makna yang terkandung dalam pahatan-pahatan kayu, dalam seni lagu, dan gerak tari. Sebab, disitu terkandung sesuatu yang tidak hanya sepintas terlihat, tetapi jauh lebih dalam terdapat suatu nilai yang dilihat.
“Event seperti sekarang ini menjadi satu kesempatan untuk kita semua belajar lebih dalam nilai-nilai saudara kita orang Asmat melalui seni mereka,” jelas dia.