MENYEBUT pariwisata di Indonesia, mesti kata-kata yang keluar pertama kali adalah Bali. Padahal Indonesia punya begitu banyak objek wisata lain yang seolah juga jadi surga kecil di bumi. Sebut saja Belitong, Raja Ampat, Labuan Bajo, Kepulauan Derawan dsb.
Harus diakui pula bahwa sebagian besar warga asing yang hendak ke Indonesia, pasti tujuannya ke Bali. Karena dari negeri mereka pun yang dikenal soal pesona wisata di nusantara adalah Bali.
Bahkan beberapa dari mereka mungkin akan bertanya, apakah Indonesia bagian dari Bali? Hellooo! Yang benar itu adalah Bali bagian dari Indonesia. Bukan sebaliknya.
Namun terlepas dari dogma bahwa berwisata ke Indonesia adalah (harus) ke Bali, tak lengkap rasanya, jika tidak menengok bagaimana Bali kembali diperkenalkan kepada dunia lewat “tangan dingin” Profesor Ida Bagus Mantra.
Sebelumnya, Bali sudah mulai dikenal dunia sejak era kolonialisme Belanda sejak 1914. Para turis sempat berhenti mendatangi Pulau Dewata di era revolusi fisik 1945-1949. Baru pada medio 1970an, Ida Bagus Mantra kembali mengenalkan Bali kepada dunia.
Salah satu tokoh yang juga berperan dalam berdirinya Universitas Udayana itu, awalnya lebih dulu mengenyam pendidikan di India. Tepatnya di Universitas Visva-Bharati, Shantiniketan, India.
Sekembalinya ke Indonesia, Ida Bagus Mantra mulai “membidani” pamor pariwisata Bali sembari menjalani tugasnya sebagai Dirjen Kebudayaan di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) RI periode 1968-78.
Selain menjalankan pembangunan di tanah kelahirannya, Ida Bagus Mantra juga merenovasi sejumlah pura. Seperti Pura Besakih dan Pura Pulaki. Mengencangkan lagi kegiatan seni-budaya seperti di era kolonial.
Ditambah, Ida Bagus Mantra juga mendirikan Art Center atau Taman Budaya Denpasar, serta sasana budaya di Buleleng dan Gianyar, demi menghidupkan kembali budaya lokal yang saat itu hidup segan mati tak mau.
Ida Bagus Mantra juga belajar dari pariwisata Bali era kolonial. Saat itu, pemerintah kolonial mengenalkan Bali dengan turut memantapkan transportasi laut dari Eropa ke Bali lewat maskapai Royal Package Navigation Company.
Maskapai itu biasa membawa ratusan wisatawan Eropa kemudian, menginjakkan kakinya di Bali, tepatnya di Singaraja, Buleleng, Bali Utara, lewat pelabuhan Buleleng sejak 1888. Kemudian pada 1891, Belanda membuat armada antar pulau dengan memiliki 140 kapal di seluruh Asia Tenggara.
Ditambah dengan adanya transportasi laut lintas Pulau Jawa-Australia. Jadilah pada 1914, Pulau Bali mulai ramai wisatawan dari luar Hindia-Belanda.
"Waktu beliau kuliah di Shantiniketan, kalau tidak salah beliau dari Makassar langsung ke India. Sudah mendapatkan S-1,S-2,S-3, dia pulang. Dan beliau tahu betul, apa itu pariwisata di cara (masa) kolonial itu seperti apa," cetus sejarawan Sugi Lanus kepada Okezone.
“Art Center dibangun, Catur Muka dibangun, rintisan airport diperbesar. Itu sudah ada wisatawan banyak waktu itu. Mereka lewat laut, banyak dari Surabaya. Penerbangan sepertinya kecil ya. Utara itu paling banyak mendatangkan wisatawan," tambahnya.
Giatnya Ida Bagus Mantra mengenalkan Bali lebih digencarkan lagi setelah dipercaya Presiden RI kedua Soeharto, dipercaya menjabat Gubernur Provinsi Bali periode 1978-88. Selain menata kesenian dan kebudayaan Bali, Gubernur Ida Bagus Mantra juga mendirikan Parisada Hindu Dharma Indonesia.
“Parisada beliau bangun yang tonggak sejarah majelis umat Hindu. Beliau juga membuat buku agama, membangun sekolah keagamaan. Dinas Keagamaan beliau turun langsung. Beliau jadi tempatnya umat menulis buku dan diskusi. Beliau itu bukan gubernur pariwisata tapi gubernur kebudayaan," tandasnya.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.