PORT ORANGE – Usai dihantam Badai Matthew kategori tiga, negara bagian Amerika Serikat yang berada di pesisir pantai, Florida tengah berbenah. Sepanjang mata memandang, kehancuran saja yang tampak. Badai telah berlalu, tetapi banjir masih menggenang.
Joan Galasso, salah seorang warga berjalan di antara puing dan reruntuhan bekas terjangan Badai Matthew. Dia pun berhenti di sebuah rumah makan seafood yang didirikannya bersama suami seperempat abad yang lalu. Kondisinya benar-benar mengerikan.
Badai yang membawa hujan lebat dan angin kencang tersebut telah memporak porandakan meja-bangku yang biasa dipakai untuk makan, minum atau sekadar menikmati siraman sinar matahari Florida. Kaca-kaca rumah makan pecah dan tembok tak lagi berdiri pada tiang pancangnya.
“Kelihatannya seperti medan perang. Keadaannya hancur total,” ucap Galasso (63) di depan rumah makannya, Matanzas Innlet, sekira 24 kilometer dari St Augustine, Florida. Demikian seperti disitat dari Newsweek, Senin (10/10/2016).
Pastinya, Galasso baru satu dari jutaan penduduk di tenggara AS yang kembali ke rumah dan menemukan bisnis yang dibangunnya susah payah telah rata dengan tanah. Sedikitnya 17 orang dilaporkan tewas akibat Badai Matthew di North Carolina, Florida, Georgia dan South Carolina. Di Haiti, Kepulauan Bahama dan Kuba yang lebih disambangi badai serupa,korban meninggal jumlahnya hampir 900 orang.
Kisah pilu lain datang dari Barry Fauts (72) yang hanya bisa terpaku saat mendatangi rumahnya yang disewakan di St Augustine hancur diamuk badai. “Ini benar-benar menyakitkan,” katanya.
“Ada orang yang sudah menempati rumah ini ketika Badai Matthew datang. Jadinya, kami harus mengembalikan uang mereka dan keduanya sudah pergi. Saya agak ngeri melihatnya, tapi saya rasa bisa menanganinya. Langkah paling tepat yang bisa saya ambil sekarang adalah menghubungi agen asuransi saya,” tambah dia.
CoreLogic, perusahaan yang mengumpulkan data-data real estate nasional memperkirakan jumlah kerugian yang disebabkan Badai Matthew sebesar USD800 miliar. Kerusakan itu terhitung dari seluruh bangunan di sepanjang pantai AS.
Di sisi lain, polisi dan para petugas penyelamat masih berjibaku dengan reruntuhan, banjir dan lainnya untuk mencari korban. Sementara itu, akses jalan juga terus diupayakan. Listrik pun belum ada yang nyala.
Elyse Deluca (30) berprofesi sebagai perawat. Kala Badai Matthew datang, dia sudah mengungsikan diri ke Tennessee, karena sulit mencari hotel terdekat dan murah.
“Kami sangat ingin pulang ke rumah. Tapi kami mengkhawatirkan rumah, apa yang akan kami lihat? Seluruh jalan tergenang banjir, namun tak sedikit pun air bersih mengalir ke rumah,” ujarnya.
(Silviana Dharma)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.