Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

2 TAHUN JOKOWI-JK: Penumpasan Terorisme Patut Diapresiasi

Erha Aprili Ramadhoni , Jurnalis-Senin, 17 Oktober 2016 |11:43 WIB
2 TAHUN JOKOWI-JK: Penumpasan Terorisme Patut Diapresiasi
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Foto: Antara)
A
A
A

Kini, dari pengikut Santoso yang patut diwaspadai, hanya tersisa Ali Kalora. Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun mengisyaratkan jika Satgas Tinombala akan berakhir usai penangkapan Ali Kalora.

“Setelah itu mungkin kita akan kembali yang operasi rutin biasa," ujarnya.

Sekadar diketahui, hingga kini Operasi Tinombala masih terus bergulir. Jika dikritisi, untuk mengungkap kelompok Mujahidin Indonesia yang hanya berjumlah sekira puluhan orang, waktu selama 9 bulan terhitung sejak Januari dirasa cukup lama untuk menumpas kelompok Santoso tersebut. Pemerintah pun berkelit sulitnya medan pegunungan menjadi penyebab lambannya penangkapan Santoso.

Pengamat intelijen dan terorisme Ridlwan Habib mengapresiasi kinerja pemerintahan Jokowi yang berhasil menangani teroris kelompok Santoso. Menurutnya, tinggal keberanian dari pihak kepolisian saja untuk masuk ke dalam hutan guna menumpas sisa kelompok Santoso yang masih bertahan.

“Kalau kelompok Santoso, setelah dia (Santoso) meninggal, Basri tertangkap, dan beberapa anaknya buahnya menyerahkan diri dan tertembak, kekuatan mereka sudah melemah. Sebenarnya memang tinggal keberanian dari polisi saja untuk masuk ke hutan,” paparnya kepada Okezone, Kamis 13 Oktober 2016.

Menurutnya, apa yang dilakukan pemerintah Jokowi terhadap kelompok Santoso lebih baik ketimbang zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Dari sisi prestasi dua tahun pemerintahan Jokowi terkait penanganan terorisme, tentu jauh lebih baik. Selama empat tahun Santoso tidak bisa ditangkap oleh Pemerintahan SBY. Justru dalam waktu empat tahun di era SBY kekuatan Santoso menguat. Dia melakukan serangan-serangan saat pemerintahan SBY,” jelasnya.

Ia pun menilai penumpasan kelompok Santoso sebagai bentuk komitmen dan keseriusan pemerintah Jokowi.

“Ada keseriusan yang lebihlah. Ada semacam task force bersama, satgas bersama, ada checking tiap bulan, operasinya sudah sampai apa hasilnya. Ini saya kira juga harus patut diapresiasi untuk catatan 2 tahun Jokowi-JK,” kata Ridlwan.

Ia pun menilai ancaman terorisme pada zaman mantan Gubernur DKI Jakarta itu lebih berat ketimbang zaman SBY. Hal itu ditambah dengan adanya ISIS yang merupakan jaringan internasional.

“Saya kira ancaman terorisme Jokowi lebih berat karena ada ISIS, jaringan internasional. Ini membahayakan. Tantangannya lebih berat apalagi sekarang ada cyber terorist. Ini juga harus diwaspadai,” katanya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement