Petaka Bom Sarinah
Dalam roda kepemimpinannya, tercatat bom meledak sebagai perwujudan aksi teror. Tercatat, pada April 2015 terjadi ledakan di permukiman pada penduduk di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Akibat ledakan di sebuah rumah bedeng tersebut, sedikitnya empat orang mengalami luka-luka.
Ledakan yang cukup menghebohkan masyarakat juga terjadi di Mall Alam Sutra, Tangerang, Banten. Diketahui, bom meledak di toilet bagian basement Mall Alam Sutera. Tentunya ledakan di pusat perbelanjaan itu sangat meresahkan masyarakat.
Selain itu, masih segar di ingatan publik Ibu Kota digegerkan dengan ledakan bom di pos polisi Sarinah, Thamrin, Jakarta, 14 Januari 2016. Peristiwa itu sempat membuat aktivitas masyarakat terhenti. Semua perhatian tertuju pada aksi teror yang dilakukan tujuh orang, dengan empat di antaranya ditembak mati.
AKBP Untung Sangaji yang saat itu berada di sebuah kafe dekat lokasi kejadian angkat nama. Berkat aksi heroiknya, ia berhasil melumpuhkan satu di antara pelaku. Para petinggi Polda Metro Jaya pun turun gunung untuk mendatangi lokasi, seperti Kapolda Metro Jaya yang saat itu Irjen Tito Karnavian serta Dirkrimum Polda Metro Jaya Krishna Murti.
Insiden ini menjadi preseden buruk untuk pemerintah. Presiden Jokowi yang saat itu tengah melakukan kunjungan kerja ke Cirebon pun dengan segera menghentikan agendanya untuk meninjau langsung lokasi kejadian. Usai teror bom itu, Presiden Jokowi bahkan menggelar rapat terbatas di Istana Negara.
Pengamat intelijen dan terorisme yang juga Peneliti Kajian Strategi Intelijen Universitas Indonesia, Ridlwan Habib menyebutkan, penanganan bom Sarinah sangat cepat. Hanya dalam hitungan menit, situasi di lokasi sudah dapat diatasi.
“Penanganan bom Sarinah di lokasi itu 40 menit, sorenya Presiden sudah berkunjung. Malamnya sudah diumumkan jaringan apa, ini luar biasa,” tuturnya.
Bahkan, hanya dalam waktu kurang dari dua hari pemerintah sudah dapat mengungkap siapa pelakunya dan penyuruh aksi teror tersebut.
“Sarinah terungkap dalam waktu sangat cepat, kurang dari 2 hari sudah terungkap siapa penyerangnya, dia dulunya dipenjara di mana, siapa yang nyuruh itu sudah terungkap dalam dua hari,” kata Ridlwan Habib.
Ia pun berpendapat bahwa skor 7,5 cukup tepat untuk menilai pemerintahan Jokowi dalam menangani terorisme. Itu terutama dengan penanganan kelompok Santoso.
“Kalau dihitung, saya boleh skor ya 7,5. Kalau 8 kebagusan, tapi kalo 7 enggak lah kan Santoso tewas. 7,5 lah,” pungkasnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.