nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

AS Tolak Permintaan Bebas Dalang Bom Bali

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Rabu 26 Oktober 2016 23:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 10 26 18 1525393 as-tolak-permintaan-bebas-dalang-bom-bali-a7EJYGRB2a.jpg Dalang bom Bali, Hambali (Foto: AFP)

WASHINGTON – Otak Bom Bali 2002, Hambali, dipastikan menetap di Penjara Guantanamo, Kuba. Kepastian diperoleh setelah pejabat Amerika Serikat (AS) menolak permohonan pembebasannya. Teluk Guantanamo memang dikhususkan bagi narapidana terorisme dengan risiko tinggi.

Seperti dimuat Channel News Asia, Rabu (26/10/2016), Riduan Isamudin –nama asli Hambali- dianggap masih memiliki ancaman besar terhadap keamanan Negeri Paman Sam. Keputusan tersebut nampaknya akan disambut baik oleh pemerintah negara-negara Asia Tenggara.

Hambali ditangkap pada 2003 dan langsung dikirim ke Penjara Guantanamo pada 2006. Warga negara Indonesia (WNI) itu diyakini sebagai perwakilian tertinggi Al Qaeda untuk Asia Tenggara. Ia juga diyakini sebagai kepala operasional kelompok militan Jamaah Islamiyah (JI).

Hambali dituduh sebagai dalang Bom Bali I pada 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang. Ia juga diyakini merencanakan serangan teror lainnya di Indonesia, termasuk sejumlah pesawat maskapai AS. Ia muncul di hadapan Dewan Peninjau Periodik Guantanamo pada Agustus 2016 untuk meminta pembebasan setelah 10 tahun ditahan tanpa dijatuhi dakwaan.

Namun, Dewan Peninjau menolak permintaan Hambali untuk bebas karena memiliki sejarah panjang sebagai teroris. Hambali juga dinilai berperan penting dalam sejumlah rencana serta serangan teror. Ia termasuk dari 60 tahanan yang tersisa di Guantanamo yang rencananya akan ditutup oleh Presiden Barack Obama.

Tak lama setelah pengumuman penutupan Guantanamo pada Februari 2016, pemerintah Indonesia menolak kemungkinan kembalinya Hambali ke Tanah Air. Penjara Guantanamo sendiri didirikan di Kuba tak berapa lama setelah serangan teror ke menara kembar World Trade Centre (WTC) yang dikenal sebagai tragedi 9/11.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini