JOMBANG - Bangsa yang besar, adalah yang menghargai jasa para pahlawannya. Kata bijak itu sepertinya masih sebatas retorika belaka di republik ini. Bagaimana tidak, hingga 71 tahun merdeka, pemerintah masih belum mampu menyejahterakan para pahlawan. Baik pahlawan di era kemerdekaan, maupun pasca-kemerdekaan.
Hampir di seluruh penjuru negeri, potret buruk kehidupan para pejuang, masih dapat dengan mudah untuk ditemukan. Tak jarang, para veteran perang ini hidup di bawah garis kemiskinan. Minimnya perhatian pemerintah terhadap para pejuang, membuat mereka seakan tak dihargai. Meski, jiwa dan raga mereka pertaruhkan demi mempertahankan bumi pertiwi.
Seperti yang dialami Paelan, (73), asal Desa Kaliwungu, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Suami Siti Umaiyah (60) ini merupakan pensiunan pasukan Sukarelawan Tempur Dwikora Brawijaya 1. Di tahun 1964 hingga 1966, Paelan adalah prajurit garda depan yang bertugas mempertahankan setiap jengkal wilayah Nusantara. Sebab, Indonesia yang baru enam tahun merdeka kala itu, sudah melakukan konfrontasi atas Malaysia.
"Satuan tempur kami itu berada di garda paling depan. Waktu itu, kita bertempur dengan pasukan Inggris. Kami bertempur di atas kapal untuk mengganyang pasukan udara musuh yang mau memasuki wilayah Indonesia," ungkap Paelan kepada Okezone, Selasa (08/11/2016).
Samar-samar Paelan mengingat peritiwa itu. Saat pesawat tempur pasukan Inggris ingin menggempur wilayah perbatasan NKRI. Namun, tak ada kata takut dalam diri para pejuang. Bermodal senapan buntut di tangan, satu persatu pesawat musuh ia jatuhkan. Hingga membuat ciut nyali tentara Inggris yang ingin merebut wilayah teritorial Indonesia. Yakni merebut Sabah dan Serawak ke dalam Federasi Malaysia.
"Kami tidak pernah takut. Banyak tentara kita yang gugur saat operasi Dwikora itu. Satu teman akrab saya, Sardi orang Blitar meninggal saat kita bertempur. Ia tewas tepat di sebelah saya, karena ia bertugas mengisi peluru senapa mesin yang saya gunakan menembak pesawat Inggris," imbuh ayah lima anak ini, sembari menyeka cairan bening yang tanpa terasa keluar dari matanya.