Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tak Dapat Grasi, Snowden Tak Takut Dipulangkan ke AS

Silviana Dharma , Jurnalis-Jum'at, 11 November 2016 |14:33 WIB
Tak Dapat Grasi, Snowden Tak Takut Dipulangkan ke AS
Edward Snowden. (Foto: Brendan Mcdermid/Reuters)
A
A
A

MOSKOW – Rumor kedekatan Presiden Rusia Vladimir Putin dan presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump membuat perhatian rakyat kembali tertuju kepada Edward Snowden. Bagaimanakah nasibnya? Apa dengan terpilihnya Trump akan otomatis melunakkan hati pemerintahan Negeri Beruang Merah?

Seperti diketahui, jenius komputer yang pernah bekerja di NSA itu sekarang berada di Moskow. Ia lari dari kampung halamannya ke Hong Kong sebelum terbang ke negara yang dianggap rival abadi AS tersebut.

Snowden pun dari tempat pelariannya menjawab tidak takut atau khawatir akan adanya kemungkinan itu. Meski begitu, dia tidak akan mengabaikan kemungkinan bahwa Trump mampu mencapai kesepakatan ekstradisi dan pengadilannya dengan Putin. Apalagi, dia adalah seorang pebisnis sukses yang tentu terbiasa dengan negosiasi-negosiasi.

“Jika saya hanya mengkhawatirkan keselamatan, keamanan dan masa depan pribadi, maka saya saat ini masih berada di Hawaii. Saya rasa saya sudah mengambil pilihan yang tepat. Sementara saya tidak bisa memprediksi masa depan saya sendiri, tidak tahu apa yang akan terjadi besok, saya tetap nyaman dengan cara hidup saya sekarang,” ucapnya mengacu pada pelariannya, seperti disunting dari The Guardian, Jumat (11/11/2016).

Pria berkaca mata itu boleh saja tidak khawatir. Akan tetapi, tidak demikian dengan yang dirasakan para pendukungnya di seluruh dunia.

Bicara melalui situs mengobrol StartPage, Snowden percaya bahwa Pemerintah Rusia memiliki prinsipnya sendiri. Presiden Putin pernah menyatakan, rakyat Rusia telah memandangnya sebagai pembela kemanusiaan. Snowden semakin lega mengetahui bahwa di Rusia yang namanya pembela kemanusiaan tidak selayaknya diadili, terlepas dari kepentingan politik negara asalnya, AS.

“Tapi jika seandainya itu hanya sekadar perkataan. Andai kata sebuah kesepakatan tetap dibuat dan saya diserahkan untuk diadili di AS. Atau jika besok ada pesawat nirawak menyerang, Trump dan Putin mengadakan operasi serangan udara bersama, lalu saya terpeleset dan jatuh dari tangga, semua tidak akan berubah,” pungkasnya.

Snowden dan para pendukungnya telah memohon pengampunan dari petahana Presiden Barack Obama. Namun orang nomor satu di Negeri Paman Sam itu menolak menggunakan hak khususnya untuk buronan tersebut.

Bagi pemerintah, Snowden adalah mata-mata yang mengambil data intelijen lebih banyak daripada yang diperbolehkan. Namun bagi sebagian besar rakyat AS, dia dihormati bak pahlawan yang membocorkan praktik spionase pemerintah terhadap warga negaranya sendiri.

Terpilihnya Trump membuka kembali kekhawatiran para pendukungnya bahwa Snowden pada akhirnya akan diadili atas perbuatannya. Ketakutan itu cukup beralasan karena capres Republik tersebut pernah mengatakan, Snowden layak dihukum mati.

“Snowden adalah mata-mata yang telah membawa dampak kerusakan parah bagi AS. Seorang mata-mata di masa lalu, ketika negara kita masih dihormati dan kuat. Jadi dia pantas dieksekusi,” cuit Trump di Twitter pada 2014.

Trump sendiri hingga saat ini mengelak diisukan memiliki kedekatan pribadi dengan Putin. Walaupun sejumlah pengamat memastikan dia adalah pengagum setia Grey Cardinal. Hal itu terlihat dari ucapan-ucapannya selama 30 tahun terakhir.

(Silviana Dharma)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement