BEKASI sebagai kota perjuangan di masa revolusi, tak sedikit melahirkan nama-nama petarung yang sayangnya jarang dikenal. Paling-paling bagi warga Bekasi, termasuk penulis, sedikitnya cuma kenal KH Noer Ali sebagai nama jalan.
Perlu dipahami, bahwa beliau adalah ulama pejuang yang sejak 2006 lalu, resmi ditetapkan dengan status pahlawan nasional. Ini yang jarang dipahami generasi sekarang yang sekadar tahu nama KH Noer Ali merupakan nama jalan di sepanjang jalur Kalimalang, Bekasi Selatan dan jembatan layang (fly over) Summarecon Bekasi.
Oleh karenanya pada momen memperingati Hari Pahlawan (10 November) lalu, digelar reka ulang Pertempuran Sasak Kapuk. Pertempuran yang terjadi pada 29 November 1945, terjadi bentrokan besar antara pasukan sekutu kontra Laskar Rakyat pimpinan KH Noer Ali.
Kalau mau membayangkannya lokasinya, pertempuran itu terjadi di pertigaan Jalan Sultan Agung, Pondok Ungu, Bekasi Utara. Di situlah pada 71 tahun silam, tentara sekutu disergap laskar pimpinan KH Noer Ali bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut.
Itu pun tercatat jadi pertempuran dahsyat dan frontal pertama yang terjadi di kawasan Bekasi. Kawasan yang saat itu jadi tapal batas, jadi pintu gerbang republik pascasekutu menetapkan garis demarkasi di Kali Cakung.
Reka ulang pertempuran ini jadi bagian dari Peringatan Hari Pahlawan yang dihelat Ikatan Arbituren Attaqwa (IKAA) di alun-alun lapangan Pondon Pesantren Attaqwa, Bekasi Utara, bekerja sama dengan reenactor dari Front Bekassi, Historia van Bandoeng, Djokjakarta 45, Bogor Historical Community, Roode Brug Soerabaia, PPGA, SAG, serta Indonesian Reenactors.
(Baca: Heroisme KH Noer Ali Hantam Sekutu di Pondok Ungu)
Tidak lupa, para siswa dari Attaqwa sendiri yang turut tampil memerankan laskar rakyat. Satu hal lagi yang tak kalah menarik, adalah tokoh KH Noer Ali sendiri diperankan sang cucu yang juga bernama Nur Ali.
Beberapa waktu pasca-gelaran reka ulang yang menggemparkan warga Bekasi Utara itu, Okezone mendapat kesempatan bersua Nur Ali yang sedianya juga mengajar di Attaqwa sebagai guru Bahasa Inggris. Dia merupakan anak ketujuh dari KH Amin Noer, putra KH Noer Ali.
Dinamai Nur Ali pun karena dia lahir tepat sebulan setelah KH Noer Ali wafat. Sang pahlawan meninggal pada 29 Januari 1992, sementara Nur Ali lahir di sebulan berselang di tanggal dan tahun yang sama. Kepada Okezone, dia pun menuturkan kesannya ikut tampil dalam reka ulang kolosal tersebut.
“Dengan adanya acara (reka ulang) itu, kita jadi tahu gimana rasanya perang yang sesungguhnya pada saat itu. Memerankan seorang pahlawan, apalagi engkong sendiri, itu jadi kesempatan yang jarang dan mungkin enggak ada lagi,” ungkap Nur Ali kepada Okezone.
“Makanya saat dihubungi tim reka ulang, ya antara senang tapi juga takut. Takut ada yang salah atau apa saat memerankan. Senangnya ya, karena mungkin ini kesempatan enggak ada lagi,” tambahnya.
Nur Ali sendiri tampil dalam beberapa adegan dalam reka ulang itu. Tapi yang sempat dipertanyakan banyak pihak, termasuk sang ayah KH Amin Noer, adalah tentang gaya berpakaian KH Noer Ali kala berperang.
Saat tampil, Nur Ali memerankan kakeknya dengan berbaju kemeja putih, celana pangsi, kopiah biasa berwarna hitam, sembari menyelipkan sepucuk revolver dummy (mainan) berjenis Webley buatan Inggris yang berasal dari era Perang Dunia di ikatan sarungnya.
“Habis acara itu, banyak yang tanya. Memangnya begitu pakaiannya KH Noer Ali (saat berperang)? Memang saat itu, bayangan orang lain masih seperti di film (Film Singa Karawang Bekasi),” imbuh Nur Ali.
Dalam film yang diperankan Rendi Bragi sebagai KH Noer Ali itu, sosok sang pahlawan digambarkan berpakaian panjang dan bersorban. Tidak seperti yang ditampilkan Nur Ali dalam reka ulang.
“Pakaian KH Noer Ali pada saat Pertempuran Sasak Kapuk itu, sudah berdasarkan wawancara kami dengan salah satu veteran yang juga pengawal KH Noer Ali. Namanya engkong (kakek) Mat Ali. Saat ditanya, ya begitulah penampakan KH Noer Ali, berkemeja dan bercelana hitam dengan sarung diikat di pinggang,” timpal penggiat sejarah Beny Rusmawan.
Sejatinya hingga masa revolusi (1945-1949) berakhir, KH Noer Ali terlibat dalam banyak pertempuran di wilayah Bekasi hingga Karawang. Sayang, tak banyak catatan yang menggambarkannya.
KH Noer Ali pun disebutkan sang cucu, tak pernah bercerita tentang masa-masa perjuangannya. Sedikit banyak yang ditetahui Nur Ali tentang perjuangan kakeknya, didapat dari sang ayah, KH Amin Noer. Itu pun KH Amin Noer juga mendapatkan cerita dari mulut orang lain.
“Sebelumnya di keluarga, engkong (KH Noer Ali) enggak pernah cerita. Kalaupun ada cerita ini itu yang dikisahkan babe (KH Amin Noer), itu juga dari orang lain. Seperti cerita peluru musuh bisa belok enggak mengenai engkong, sama soal saat engkong aktif di Masyumi Bekasi,” sambung Nur Ali.
“Sifat-sifat engkong yang diceritakan ayah, ya beliau orangnya keras dalam mendidik anak-anaknya, tapi penuh dengan harapan ke depannya bahwa anak-anaknya harus jadi orang yang berguna bagi umat,” tuturnya lagi.
Tak lupa, Nur Ali berharap di tiap momen Hari Pahlawan, ada lagi usaha-usaha untuk mengingat KH Noer Ali ke depannya, baik dalam bentuk reka ulang atau yang lain. Pasalnya, KH Noer Ali sebagai pahlawan dari Bekasi, punya sejumlah sifat yang bisa diteladani generasi saat ini.
“Beliau itu dikenal dengan sifatnya yang mandiri. Beliau selalu menyontohkan, leading by example. Kalau bertani ya beliau ikut menyangkul sawah. Saat membangun jalan juga beliau ikut ngerjain. Beliau juga enggak pernah suka gembar-gembor tentang jasanya di masa lalu,” tandas ujar Noer Ali.
“Saya pribadi inginnya tiap Hari Pahlawan ada yang kayak gini. Karena setahu saya kisah engkong itu di masa perjuangannya banyak. Perlu lah bagi kita, santri dan orang-orang sini yang minim dengan sejarah KH Noer Ali, untuk tahu lebih banyak. Dengan adanya reka ulang, setidaknya kita bisa tahu lebih dalam seperti apa bagaimana perjuangan beliau,” tandasnya.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.