Share

Putin: Penembakan Dubes Rusia Sangat Provokatif

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Selasa 20 Desember 2016 04:16 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 20 18 1570855 putin-penembakan-dubes-rusia-sangat-provokatif-TcGxPlOhag.jpg Presiden Rusia Vladimir Putin yakin penembakan Dubes Andrey Karlov adalah aksi provokasi (Foto: Alexei Druzhinin/Reuters)

MOSKOW – Presiden Rusia Vladimir Putin angkat bicara mengenai insiden penembakan yang menewaskan Duta Besar Andrey Karlov di Ankara, Turki. Pria berusia 64 tahun itu menyebut penembakan sebagai upaya provokasi untuk menghancurkan hubungan Rusia dengan Turki.

“Pembunuhan ini sangat jelas adalah provokasi yang bertujuan menghancurkan perbaikan dan normalisasi hubungan Rusia-Turki serta menghancurkan proses perdamaian di Suriah yang diupayakan Turki, Rusia, dan Iran,” ujar Putin, seperti dimuat Russia Today, Selasa (20/12/2016).

Grey Cardinal menyatakan Moskow akan meningkatkan perlawanan terhadap terorisme sebagai respons terbaik atas tewasnya Andrey Karlov. Putin menyebut almarhum sebagai seorang diplomat yang brilian dan selalu dihormati oleh negara di mana pun ia ditempatkan, termasuk di Turki.

Komite Investigasi Rusia telah melakukan penyelidikan terkait pembunuhan tersebut. Putin telah melakukan panggilan telefon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Keduanya sepakat otoritas Rusia dan Turki akan bekerja sama menuntaskan penyelidikan kasus tersebut. Putin menekankan agar dalang di balik pembunuhan tersebut harus segera diungkap.

Pria asal Saint Petersburg itu memerintahkan agar penjagaan terhadap semua misi diplomatik Rusia di luar negeri diperketat. Putin yang mengenal dekat Karlov menyebutnya sebagai orang yang sangat baik. Ia juga memerintahkan bawahannya untuk memberikan penghargaan anumerta serta mengadakan upacara peringatan untuk mengenang jasa-jasa Andrey Karlov.

“Ia tewas ketika sedang melaksanakan tugasnya,” tandas Putin. Sebagaimana diketahui, Andrey Karlov tewas ditembak oleh Mevlut Mert Altintas hanya beberapa saat sebelum membuka pameran foto. Aksi pria berusia 22 tahun itu dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus balas dendam atas kebijakan Rusia di Aleppo, Suriah.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini