Seiring berjalannya zaman, mulai datang petualang-petualang dari negeri India dan menyebarkan agama Hindu. Ekspedisi besar-besaran pun sempat dilancarkan seorang raja, Vaivasvata pada tahun 78 Masehi dengan dipimpin seorang spiritual, Aji Saka.
Kedatangan Aji Saka ini bak perlambang kedatangan kebajikan (dharma) Hindu-Budha ke Pulau Jawa. Setelah mengalahkan raja kejam di Pulau Jawa dan menghilangkan pengaruh gaib sebelumnya, Aji Saka menciptakan ketertiban berkehidupan di Tanah Jawa.
Dia juga sekaligus menerapkan sistem Kalender Saka atau kalender Hindu. Kendati begitu, mistisme, ilmu-ilmu klenik dan hal-hal gaib tak serta merta sirna. Justru mulai banyak berkembang ilmu-ilmu gaib yang sifatnya kebatinan dan kejawen.
Memasuki abad 13, Islam mulai datang ke Tanah Jawa dari Kekaisaran Ottoman dengan utusan ulama bernama Syekh Subakir. Datang ke Tanah Jawa, ulama tersebut membawa batu hitam dari Jazirah Arab yang sudah dirajah.
Batu yang konon bernama Rajah Aji Kalacakra itu ditanam di Puncak Gunung Tidar. Sontak, kekuatan gaib yang selama ini mengusik Pulau Jawa bisa ditangkal karena diyakini kala itu, Gunung Tidar merupakan titik utama atau pakunya Pulau Jawa.
Walau begitu, tetap saja ilmu-ilmu halus macam kebatinan yang berkembang jadi ketabiban, kewaskitaan, kanuragan, hingga pengasihan masih ada. Peredaman pengaruh negatif ilmu-ilmu halus itu konon diteruskan para Wali Songo.