SALAH satu penguasa terlama kerajaan Inggris, Ratu Victoria meninggal dunia pada 22 Januari 1901 setelah memerintah selama 63 tahun. Mangkatnya Sang Ratu mengakhiri era di mana Inggris kembali berjaya menjadi sebuah kerajaan besar yang daerahnya ada di seluruh belahan dunia.
Lahir pada 1819, perempuan dengan nama Alexandrina Victoria itu naik tahta setelah pamanya Raja William IV meninggal dunia pada 1837. Sebagai seorang penguasa, Victoria dikenal sebagai sosok yang keras kepala, sifat itu, menurut suaminya, Pangeran Albert, bertolak belakang dengan sifat aslinya yang baik.
Victoria menikah dengan Pangeran Albert dari Jerman sekaligus sepupu pertamanya pada Februari 1940. Pasangan itu membangun sebuah tempat tinggal keluarga kerajaan di Osbourne House di Isle of Wight, sebuah pulau di Skotlandia yang jauh dari pusat pemerintahan di London.
Pangeran Albert segera memberikan pengaruh besar dalam kehidupan Victoria dan berperan sebagai sekretaris pribadi sekaligus pendamping penguasa Inggris. Albert dianggap berjasa mengorganisir perhelatan Great Exhibition atau Pameran Besar yang dilansungkan di Crystal Palace, London pada 1851. Dia juga berperan mengalihkan dukungan kerajaan dari Partai Whigs ke partai konservatif tories.
Karena itulah ketika Albert meninggal dunia pada 1861, Sang Ratu sangat berduka hingga tidak pernah muncul di hadapan publik selama sekira tiga tahun. Dikabarkan, Victoria tidak pernah bisa benar-benar melupakan suaminya tersebut. Hingga akhir hayatnya, dia masih meminta pelayannya untuk menyiapkan baju untuk Albert dan mengganti air dalam baskom di kamar mendiang suaminya.
Dari pernikahan dengan Albert , Victoria dikaruniai sembilan orang anak termasuk putrinya yang lahir pada 1840, Victoria, yang kemudian menjadi Ratu Jerman dan putra mahkota, Prince of Wales yang kemudian menjadi Raja Edward VII.
Absen untuk waktu yang lama membuat kepopuleran Victoria di mata publik menurun drastis. Untungnya, dengan dorongan Ketua Partai Konservatif sekaligus perdana menterinya (PM), Benjamin Disraeli, Victoria bisa dibujuk untuk kembali muncul dan berhenti mengasingkan diri.
Jasa-jasa Disraeli dalam memperluas dan memperkuat Kerajaan Inggris membuat Victoria terkesan dan menjadi salah satu alasannya untuk kembali menampakkan diri di depan publik. Disraeli pula yang mengusulkan untuk memberikan Victoria gelar sebagai Ratu India dan menjadikannya sebagai simbol persatuan di dalam kerajaan.
Dalam beberapa dekade terakhir kehidupannya, kepopuleran Victoria kembali menanjak secara signifikan. Meski tak sepenuhnya menerima kemajuan pesat teknologi yang terjadi pada abad ke-19, Victoria tetap berusaha keras menjalankan perannya sebagai kepala negara.
Saat dia menghembuskan nafas terakhirnya pada 1901, Victoria meninggalkan 37 cicit yang menikah dengan keluarga kerajaan lainnya di seluruh Eropa. Hal ini membuatnya dijuluki sebagai “nenek Eropa”.
Setelah berkuasa selama 63 tahun enam bulan dan dua hari, Ratu Victoria adalah penguasa terlama Kerajaan Inggris dan ratu yang berkuasa paling lama dalam sejarah dunia sampai dilampaui oleh Ratu Elizabeth II pada 9 September 2015.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.