Kala Usia Senja Tak Surutkan Warso untuk Lepas dari Buta Aksara

Markus Yuwono, Sindoradio · Selasa 31 Januari 2017 21:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 01 31 510 1605912 kala-usia-senja-tak-surutkan-warso-untuk-lepas-dari-buta-aksara-D5VntvTET1.jpg Warso dan istrinya saat ditemui Bupati Gunungkidul. (Foto: Markus Y)

YOGYAKARTA - Pasangan suami istri Warso dan Tariyah warga Jeruksari Gunungkidul, Yogyakarta, patut dicontoh bagi generasi muda saat ini. Sebab, diusia senjanya, selama 7 minggu terakhir mereka berdua belajar menulis dan membaca huruf yang selama ini tidak dipahaminya.

Kesuksesan mereka berdua ditunjukkan langsung kepada Bupati Gunungkidul, Badingah, penyerahan Surat Keterangan Melek Aksara (Sukma) di Bangsal Sewokoprojo Wonosari, Selasa (31/1/2017).

Saat bupati mencoba ingin mengetahui kecakapannya menulis Tariyah mengaku grogi.

"Lha kulo wedi, biasane mung ngadepi daging ayam dipasar sakniki disuruh nulis, (Lha saya takut, biasanya memotong daging ayam, sekarang disuruh nulis)," kata Tariyah disambut gelak tawa.

Di usia sudah 65 tahun dirinya belajar bersama tutor, ketika dites bupati untuk menulis nama hewan “Ayam”, agak kesulitan. Ia hanya menulis huruf A dan sejenak berhenti saat akan menulis huruf Y.

Mencoba mengingat sambil menggores spidol namun hurf tersebut seolah hilang. Oleh bupati, pertanyaanya diganti namun saat disuruh menulis namanya Tariyah bisa selesai ditulis. “Kulo bingung je, bu(Saya bingung bu), Grogi,” ujarnya

Menggunakan papan tulis, bupati meminta pada Warso (70) untuk menulis namanya. “Coba tulis nama bapak di papan tulis ini,” pinta bupati sambil menyerahkan alat tulis spidol. Meski agak grogi, salah satu warga melek aksara ini menuliskan kata “Warso” di papan tulis. “Ini nama saya Bu,” kata bapak itu.

Tariyah menceritakan, dirinya bisa sedikit membaca dan menulis karena dilatih oleh salah seorang mentor yang selama 7 minggu datang ke rumahnya. Bersama suaminya setiap seminggu ada dua kali 'sekolah' membaca dan menulis. Selanjutnya setiap malam bersama Sang suami yang berprofesi sebagai petani ini mereka berdua belajar bersama cucu.

"Saya ini tidak bersekolah, belajar menulis disuruh cucu saya 'mbok gek sinau nulis ben ra dipusi (Mbah belajar nulis agar tidak mudah dibohongi) itu kata cucu saya,"katanya menirukan salah satu cucunya.

Meski berat karena usia yang tak lagi muda, keduanya terus mengasah menulis. Satu persatu huruf dihapal dan dicoba untuk menulis. Meski tak sebagus tulisan dan dengan ejaan yang masih terbatas, namun usaha mereka berdua patut diacungi jempol. "Dulu menyuruh anak cucu sekolah, sekarang kami disuruh sekolah," tandasnya. 

Sementara Bupati Gunungkidul Badingah mengakui masih ada sekitar 2000 an warganya masih buta huruf. Sebagian besar berusia 60 an tahun ke atas. Untuk usia produktif sudah tidak ada lagi yang buta huruf.

"Kalau mengajar usia diatas 60 tahun tentunya akan suulit, tetapi kami terus berusaha, dan targetnya tahun ini semuanya sudah selesai," papar Badingah.

Dijelaskannya, data dinas pendidikan pemuda dan olahraga (Disdikpora) di tahun 2014 jumlah warga yang buta aksara masih mencapai 15.548 orang, namun di tahun 2015 berhasil dituntaskan sebanyak 3.740 orang warga belajar. Untuk tahun 2016 dituntaskan 10.078 orang. Tahun ini kurang dari 2000 orang. (sym)

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini