Mencoba mengingat sambil menggores spidol namun hurf tersebut seolah hilang. Oleh bupati, pertanyaanya diganti namun saat disuruh menulis namanya Tariyah bisa selesai ditulis. “Kulo bingung je, bu(Saya bingung bu), Grogi,” ujarnya
Menggunakan papan tulis, bupati meminta pada Warso (70) untuk menulis namanya. “Coba tulis nama bapak di papan tulis ini,” pinta bupati sambil menyerahkan alat tulis spidol. Meski agak grogi, salah satu warga melek aksara ini menuliskan kata “Warso” di papan tulis. “Ini nama saya Bu,” kata bapak itu.
Tariyah menceritakan, dirinya bisa sedikit membaca dan menulis karena dilatih oleh salah seorang mentor yang selama 7 minggu datang ke rumahnya. Bersama suaminya setiap seminggu ada dua kali 'sekolah' membaca dan menulis. Selanjutnya setiap malam bersama Sang suami yang berprofesi sebagai petani ini mereka berdua belajar bersama cucu.
"Saya ini tidak bersekolah, belajar menulis disuruh cucu saya 'mbok gek sinau nulis ben ra dipusi (Mbah belajar nulis agar tidak mudah dibohongi) itu kata cucu saya,"katanya menirukan salah satu cucunya.
Meski berat karena usia yang tak lagi muda, keduanya terus mengasah menulis. Satu persatu huruf dihapal dan dicoba untuk menulis. Meski tak sebagus tulisan dan dengan ejaan yang masih terbatas, namun usaha mereka berdua patut diacungi jempol. "Dulu menyuruh anak cucu sekolah, sekarang kami disuruh sekolah," tandasnya.