APA yang terlintas di benak Anda jika menyebut Nusakambangan? Mayoritas mesti terbersit tentang penjara atau lembaga pemasyarakatan (lapas) yang menampung para penjahat kelas kakap, mulai dari perampok, pembunuh, bandar narkoba, hingga teroris.
Nusakambangan itu sendiri adalah sebuah pulau di ujung selatan Pulau Jawa. Pulau sepanjang 36 kilometer (km), lebar 6-8 km dan memiliki luas 21 ribu hektare ini, letaknya sangat dekat dengan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah dan hanya dipisahkan Selat Segara Anakan.
Namun pulau ini tak berada di bawah naungan Kabupaten Cilacap, melainkan di bawah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) RI. Alasannya, sejak zaman Belanda memang pulau ini jadi tempat “membuang” para terpidana, tepatnya di sembilan penjara.
Akan tetapi, saat ini yang dioperasikan Kemenkumham beberapa lapas. Yakni Lapas Klas I Batu, Lapas Besi, Lapas Klas IIA Kembang Kuning, Lapas Klas IIB Terbuka, serta Lapas Klas IIA Permisan.
Meski begitu, tetap saja Nusakambangan banyak disebut orang-orang awam sebagai nama penjara, bukan nama pulau. Nama penjara yang bahkan sering dijuluki Alcatraz-nya Indonesia.
Padahal pulau ini juga menyimpan keeksotikannya tersendiri. Beberapa pantai di sana tak kalah indah dengan yang ada di Bali, Lombok atau Belitung. Di pulau ini juga dijadikan cagar alam untuk beberapa flora langka.
Tapi di sisi lain, pulau ini juga menyimpan banyak cerita mistis. Seperti eksistensi kijang emas, hewan kawuk pemakan bangkai manusia, mustika biru di Gua Ratu, hingga hutannya yang tak jarang membuat orang tersesat tak bisa keluar hutan.