Untuk mendukung penerbitan Oetoesan Hindia, Hasan Ali Soerati meminta Tjipto Mangoenkoesoemo memimpin Oetoesan Hindia. Tjipto menolak tawaran Ali.
Tjipto harus ke Bandung. Di sana, Tjipto bersama Suwardi Suryaningrat menerbitkan De Expres. Maka diangkatlah Tjokroaminoto sebagai hoofdredacteur.
Guna mendampingi Tjokroaminoto yang belum berpengalaman dalam jurnalistik, Hasan Ali Soerati menunjuk Tirtodanudjo sebagai mede-redacteur (redaktur). Tirtodanudjo adalah mantan redaktur utama Sinar Djawa dan pegawai Volkslectuur (lembaga pemerintah kolonial yang bertugas menerbitkan buku-buku bagi pribumi dan mengawasi surat kabar pribumi, China, serta Melayu).
Kekuasaan penuh Tjokroaminoto di SI Surabaya berdampak besar pada Oetoesan Hindia. Agustus 1913, Hasan Ali Soerati dan beberapa orang yang mendukungnya dipaksa mundur dari Setija Oesaha. Saham miliki Hasan Ali Soerati pun dibeli Tjokroaminoto.
Ia mendapat dukungan dan bantuan finansial dari anggota yang anti-Hasan Ali Soerati. Maka sejak itu, secara de facto Tjokroaminoto resmi menjadi direktur Setija Oesaha, induk Oetoesan Hindia.