Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Manfaatkan Media Massa, Cerdiknya HOS Tjokroaminoto Melawan Kolonial Belanda

Tuty Ocktaviany , Jurnalis-Kamis, 09 Februari 2017 |15:32 WIB
Manfaatkan Media Massa, Cerdiknya HOS Tjokroaminoto Melawan Kolonial Belanda
HOS Tjokroaminoto (Foto: Okezone/Ist)
A
A
A

Dalam kisah berbeda, ada yang menarik juga dari kejadian antara Tjokroaminoto dengan Marthodharsono, tepatnya pada 11 Januari 1918. Djawi Hiswara, asuhan Martodharsono, memuat tulisan Djojodikoro. Kalimat kontroversial muncul di tulisan Djojodikoro: “Sebab Goesti Kandjeng Nabi Rasoel itoe minoem tjioe A.V.H dan monoem madat, kadang kle’le’t djoega soeka...”

Sebulan setelah peristiwa itu, di Solo nyaris tidak ada protes, kecuali pada 30 Januari 1918, Abikoesno Tjokorosoejoso memprotes tulisan tersebut di Oetoesan Hindia. Koran terbitan Surabaya itu milik Tjokroaminoto. Sedangkan Abikoesno adalah adiknya.

Tjokroaminoto melalui Oetoesan Hindia menyebarkan isu keisengan Martodharsono tersebut. Oetosan Hindia meminta kepada seluruh koran di Hindia Belanda untuk memprotes Abikoesno itu, sekaligus mengecam Marthodharsono dan Djojodikoro.

Umat Islam di Jawa dan Sumatera tergerak. Geger pun dimulai. Di Surabaya, pada 6 Februari 1918, Tjokroaminoto membentuk Tentara Kandjeng Nabi Muhammad (TKNM). Dalam pembentukan TKNM tersebut, Tjokroaminoto berhasil mengumpulkan dana lebih dari 3 ribu gulden.

Tjokro sukses. Pada 24 Februari 1918, hampir seluruh Jawa dan sebagian Sumatera membentuk TKNM. Lebih dari 10 ribu gulden terkumpul. Umat Islam di Hindia siap melawan pelecehan yang dilakukan Martodharsono.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement