Matikah Martodharsono? Sampai Maret 1918, Djawi Hiswara tetap terbit. Martodharso kepalanya masih utuh. Justru Misbach, pemimpin redaksi Medan Moeslimin dan Islam Bergerak yang marah-marah. Tjokro dianggapnya tak serius. Sebab, sebulan penuh tak ada tindakan yang diambil Tjokro.
Apa yang sebenarnya diinginkan Tjokro? Tepat 6 Maret 1918 Tjokroaminoto, anggota Volksraad dan ketua CSI, melalui Oetoesan Hindia mengumumkan pencalonannya sebagai Lid Volksraad. Seluruh cabang SI diberi dua pilihan: mufakat atau tidak. Sejak itu, Oetoesan Hindia memberitakan reaksi dari pelbagai cabang-cabang SI di Jawa.
Tanggapan final pun diumumkan. Pengumuman tersebut langsung disampaikan oleh Tjokroaminoto di Oetoesan Hindia edisi 20 Maret 1918. Hasil finalnya dari 58 cabang SI yang diakui CSI, 28 cabang mufakat, 26 tidak mufakat, satu blanko kosong, dan tiga suara tidak berlaku.
“Soeara terbanyak moefakatlah adanja,” kata Tjokroaminoto.
Esok pagi, suratnya kepada Gubernur Jenderal Graaf van Limburg Stirum dimuat Oetoesan Hindia. Dalam surat tersebut, ia memaparkan sejumlah cabang Sarekat Islam di Hindia Belanda yang mendukung TKNM. Tjokroaminoto juga menjabarkan ratusan ribu orang yang menghadiri dan menyepakati berdirinya TNKM di bawah komandonya. Pendek kata, Tjokro mengumumkan kekuasaannya di depan Gubernur Jenderal di Buitenzorg. Demikian disarikan dari buku ‘Tanah Air Bahasa, Seratus Jejak Pers Indonesia’.
(Tuty Ocktaviany)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.