Petugas dan penghuni lapas lain paham soal keahlian dan kebiasaan penghuni blok B tersebut. Mereka yang ingin bertemu Mulyadi tinggal menuju ke areal brandgang (lorong bagian tembok kedua) lapas. Di tempat itulah pria yang dulu menjadi dosen salah satu perguruan tinggi di Surabaya tersebut kerap menghabiskan waktu.
Biasanya dia berada di lokasi pembuatan pupuk dan areal pertanian itu mulai pukul 08.00. Pada pukul 11.30, dia kembali lagi ke blok karena waktunya blok tutup. Siang sekitar pukul 13.00 sampai pukul 14.30, dia kembali ke sana. “Jika diizinkan seharian di sini, juga betah,’’ ujarnya, lalu tertawa.
Mulyadi mengungkapkan awal mula dirinya membuat kompos. Dia membuat kompos tidak untuk tujuan komersial, tapi lebih pada kepedulian lingkungan. Saat itu, dia melihat banyaknya sampah basah yang ditumpuk begitu saja di sisi lapas. Akibatnya, keadaan lapas terlihat kumuh.
Menurut dia, tiap hari sampah dari sisa sayuran atau bahan basah lainnya cukup banyak. Ada 4–5 karung. Sampah-sampah itu sering sampai membusuk sebelum truk sampah datang untuk mengangkutnya.
Padahal, tumpukan sampah itu menyimpan potensi dan manfaat untuk pertanian. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos untuk berbagai tumbuhan di areal lapas. Lebih luas, hasil kompos yang melimpah juga bisa menunjang program urban farming di Kota Delta. “Kegiatan ini juga bisa mengedukasi warga binaan,’’ jelasnya.
Setidaknya, para napi dan tahanan yang menimba ilmu tentang pembuatan kompos dari Mulyadi memiliki bekal saat nanti keluar bui. Ketika bebas, mereka bisa memproduksi kompos sendiri. Hasilnya bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan begitu, mantan napi yang telah merdeka memiliki harapan hidup yang lebih baik.