CIREBON - Menjadi seorang jurnalis bukan hanya dibutuhkan kecerdasan, kecakapan mengolah informasi, dan keberanian. Tapi juga harus terbuka dengan hal-hal baru, termasuk teknologi untuk mendukung liputan dan mengirim karya jurnalistik.
Perkembangan teknologi sekarang memang pesat. Jika zaman dulu orang mengetik dengan mesin dan mengirimnya lewat perantara kurir, sekarang jurnalis bisa langsung melaporkan peristiwa yang diliputnya dari lapangan hanya dengan bermodal telefon pintar atau gadget.
Wartawan senior di Indramayu, Jawa Barat, Udi Iswahyudi (50) menuturkan pengalamannya menjadi pewarta sejak era mesin tik berjaya. Mesin itulah yang jadi andalannya membuat berita kala itu. "Dulu, saya masih menggunakan mesin tik dan hasil ketikan berita dikirim lewat faksimile," katanya kepada Okezone, Rabu (8/2/2017).
Fasilitas zaman dulu memang serba terbatas. Jumlah wartawan tidak sebanyak sekarang, organisasi pers juga sedikit. Medianya pun hanya ada beberapa koran, televisi pemerintah, dan radio.
"Perjuangan saya pun tidak pada penulisan berita saja, namun pada bagian peliputan ke lapangan, dulu belum banyak sepeda motor dan mobil, kami pun kesulitan jika lokasinya cukup jauh," ujarnya.
Saat komputer mulai membumi, Udi pun beralih dari mesin tik ke komputer dalam membuat laporannya. Pekerjaannya sudah lebih mudah. Mobil dan sepeda motor kala itu sudah mulai banyak, jadi lebih leluasa ia untuk liputan ke sana ke mari.