Dulu, memang pasukan Inggris begitu bangga mengenakan seragam berwarna merah atau “red coat” dengan tujuan, menggetarkan nyali lawan. Tapi dua unit ini khusus mengenakan tunic atau jaket hijau demi menyamarkan diri mereka dengan rerumputan.
Tunik hijau sempat diikuti para penembak jitu Pasukan Union dalam Perang Sipil Amerika (1861-1865), di mana para tentara reguler justru mengenakan jaket biru (Pasukan Konfederasi berjaket abu-abu).
Pola kamuflase hijau kembali dipergunakan dalam Perang Dunia I (PD I), di mana sebuah korps pasukan Prancis, khusus dipakaikan seragam hijau oleh Lucien-Victor Guirand de Scévola yang kemudian segera diikuti Inggris dan Amerika Serikat.
Pasca-PD I, baru mulai bermunculan pola-pola kamuflase loreng yang jadi patokan untuk berbagai pasukan di dunia saat ini. Seperti pola loreng “Splittertarnmuster”.
Pola kamuflase dengan empat warna (coklat, hijau, hitam dan khaki) itu jadi pola “loreng” pertama di dunia dan digunakan Angkatan Darat Jerman sejak 1931. Pola kamuflase ini kala itu leibh banyak digunakan untuk bahan poncho atau jas hujan.