Kematian Kohler cukup merontokkan nyali pasukan Belanda. Jenderal Nieuwenhuijzen lalu menarik prajuritnya yang tersisa ke Batavia (sekarang Jakarta), pada 26 April 1873.
Jenazah Kohler lalu dikuburkan ke Jakarta, sebelum kerangkanya dibawa lagi ke Aceh dan dikuburkan di kompleks makam serdadu Belanda di Banda Aceh atau Kerkhof Peutjut.
Menjelang pergantian tahun, Belanda kembali melancarkan agresi kedua ke Aceh. Pasukan dikirim lebih besar dibanding agresi pertama. Setidaknya 8.500 militer dan 4.300 pekerja disertakan dalam serangan kedua mulai 20 November 1873.
Di tengah perang memanas, Sultan Alaidin Mahmud Syah mangkat akibat terkena wabah penyakit pada 26 Januari 1874. Meninggalnya Sultan Alaidin sempat membuat kursi kepemimpinan di Kesultanan Aceh kosong, karena putra sultan yakni Tuanku Muhammad Dawood Syah usianya masih sangat belia.
Belanda lantas berhasil menguasai Darul Duniya atau Istana Kesultanan Aceh dan Masjid Raya Baiturrahman yang sekompleks dengannya. Masjid Raya lalu dibakar Belanda yang membuat warga Aceh makin membenci kolonial.
Jatuhnya Darul Duniya ke Belanda membuat pusat Pemerintahan Kesultanan Aceh pindah ke Indrapuri, Aceh Besar. Bahkan, Tuwanku Muhammad Dawood Syah dilantik sebagai Sultan Aceh di Masjid Raya Indrapuri. Ketika itu, Daudsyah masih bocah. Ia baru resmi memimpin Kesultanan Aceh setelah pusat kerajaan pindah ke Keumala, Pidie.
Perang pertama dan kedua sama frontalnya. Kedua pihak mengerahkan pasukan maksimal. Belanda sempat menambah 1.500 prajurit karena kuatnya kekuatan pasukan Aceh yang terus menyerukan perang sabil atau perang suci melawan kafir.
Kerkhof atau kuburan serdadu Belanda di Banda Aceh (Salman Mardira/Okezone)
Orientalis Belanda Snouck Horgronje dalam tulisannya mengakui bahwa semangat perang rakyat Aceh ke Belanda begitu besar karena dilandasi ajaran agama. Mereka rela mati demi membela agama dan kedaulatan tanah airnya.
Perang makin menjadi-jadi. Meski beberapa benteng pertahanan pasukan Aceh dikuasai Belanda, tapi rakyat Aceh terus melawan dengan taktik geriliya. Belanda ikut mengirim Marsose alias Korps Marechaussee te Voet, satuan militer Hindia Belanda ke Aceh. Prajurit Marsose kebanyakan adalah warga pribumi dari Pulau Jawa hingga Maluku yang diperbudak Belanda.
Meski perang sudah berlangsung berpuluh tahun, tapi Belanda belum juga mampu menguasai Aceh. Padahal, anggaran perang mereka keluarkan sangat banyak. Di dalam negerinya, Kerajaan Belanda sendiri mulai dikritik karena gagal menaklukkan Aceh sementara anggaran negara yang terkuras tak sedikit.
Pada akhirnya, Belanda pun menerapkan srategi picik. Mulai dari mengirimkan orientalis Snouck Horgronje ke Aceh. Ia lebih dulu dikirim ke Arab untuk belajar Islam lalu masuk ke Aceh, menyaru sebagai ulama. Tugasnya, melemahkan perjuangan rakyat Aceh dengan menyebarkan pemahaman-pemahaman sesat tentang Islam.
Sementara di lapangan pasukan Belanda juga menerapkan taktik tak terpuji; menculik keluarga Sultan Aceh lalu meminta Sultan Muhammad Dawood Syah berunding. Saat itu, Sultan yang bermarkas di Keumala lalu menemui perwakilan Belanda di Sigli, Pidie, pada Januari 1903.
Celakanya, saat itu Belanda langsung menahannya dan membawa Sultan ke Banda Aceh. Sultan dipaksa meneken surat penyerahan kekuasaan Aceh kepada Belanda, tapi ditolak tegas. Akhirnya, Belanda menawan Sultan Muhammad Dawood Syah di sebuah rumah di kawasan Keudah, Banda Aceh.
Di balik rumah tawanan, Sultan masih bisa memimpin perlawanan. Ia bahkan mengirim langsung surat atas nama Kesultanan Aceh ke Konsulat Jepang di Singapura, meminta Pemerintah Nippon membantu Aceh mengusir Belanda. Namun, aksi Sultan tercium pihak Belanda. Sultan pun diasingkan ke Batavia hingga meninggal dunia pada 6 Februari 1939. Sultan Muhammad Dawood dikuburkan di TPU Utan Kayu, Rawamangun, Jakarta Timur.
Meski Sultan Aceh ditawan, rakyat Aceh terus memberikan perlawanan ke Belanda. “Di sejumlah wilayah di Aceh masih terus terjadi peperangan baik perseorangan maupun kelompok,” kata Husaini.
Sejarawan Aceh, Ramli A Dally, mengatakan saat itu satu per satu kerajaan di Nusantara takluk ke Belanda selama 200 tahun mereka menguasai Hindia Belanda. Tapi, Kerajaan Aceh tak pernah menyerahkan kedaulatannya sejak Belanda mengeluarkan maklumat perangnya terhadap Aceh pada 1873.
Pamong budaya Komunitas Peubeudoh Sejarah, Adat, dan Budaya Aceh (Peusaba) Djamal Syarief mengatakan, ketika berlangsungnya Konferensi Meja Bundar di Den Hag, Belanda, pada 1949, Inggris menanyakan mana kawasan Indonesia yang masih bebas dari penaklukan Belanda? Maka, tersebutlah Aceh.
“Semua peserta konferensi setuju dan mengakui Indonesia menjadi sebuah negara merdeka,” kata Djamal.
Perang Aceh salah satu perang paling lama sekaligus frontal di dunia. Menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia Vol I, Perang Aceh menelan banyak sekali biaya dan nyawa. Di pihak Aceh, empat persen penduduknya atau 70.000 orang meninggal. Dari kubu Belanda sedikitnya 35.000 serdadunya tewas.
Wartawan Belanda HC Zentgraaff menuliskan kesaksiannya tentang perang Aceh versus Belanda dalam bukunya berjudul “Atjeh”. Ia mengatakan bahwa perang Aceh salah satu perang terdahsyat di dunia. Aceh, kata dia, adalah negeri yang tak mudah ditaklukkan.
Salah satu bukti hebatnya perang Aceh melawan Belanda adalah di Kerkhof, kompleks kuburan Belanda di Jalan Teuku Umar, Banda Aceh. Lebih 2 ribu serdadu Belanda yang tewas dalam perang Aceh dikubur di sana.
(Salman Mardira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.