HISTORIPEDIA: Ketika Presiden AS Ronald Reagan Diberondong Timah Panas

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Kamis 30 Maret 2017 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 03 29 18 1654139 historipedia-ketika-presiden-as-ronald-reagan-diberondong-timah-panas-p1Wf7aMiKp.jpg Foto keadaan di lokasi usai Reagan ditembak (Foto: AP)

UPAYA pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) tidak hanya menimpa mendiang John Fitzgerald Kennedy (JFK), tetapi juga Ronald Reagan. Tidak seperti halnya JFK yang meninggal dunia, nyawa Ronald Reagan masih diselamatkan Yang Maha Kuasa.

Politikus Partai Republik itu ditembak oleh seseorang bernama John Hinckley Junior pada 30 Maret 1981. Ronald Reagan diberondong peluru di luar Hotel Hilton di Ibu Kota Washington usai memberikan pidato dalam rapat serikat buruh.

John Hinckley menembak sebanyak enam kali ke arah sang presiden.Ia menyamar dengan berdiri di antara sekelompok wartawan di luar hotel. Tembakan tersebut mengenai Presiden Ronald Reagan, Atase Pers Gedung Putih James Brady, Agen Dinas Rahasia Timothy McCarthy, dan perwira polisi Distrik Columbia Thomas Delahaney.

Agen Dinas Rahasia lainnya berhasil menyudutkan pelaku ke tembok dan menahannya. Ronald Reagan yang tidak sadar mengalami luka tembak, harus dipapah menuju mobilnya untuk dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Presiden Ronald Reagan tertembak di paru-paru sebelah kirinya. Beruntung, peluru berkaliber 22 milimeter (mm) itu tidak mengenai jantungnya. Sementara itu, James Brady tertembak di bagian kepala dan mengalami luka serius; Timothy McCarthy tertembak di bagian samping tubuhnya; serta Thomas Delahaney tertembak di lehernya.

Reagan yang kala itu berusia 70 tahun masih sempat berjalan sendiri menuju bangsal Rumah Sakit George Washington University tanpa bantuan. Ketika sudah mendapatkan perawatan dan akan menjalani operasi pengangkatan peluru, Ronald masih sempat-sempatnya bercanda dengan sang istri, Nancy Reagan.

“Sayang, saya lupa mengatakan sesuatu. Tolong katakan kepadaku kamu adalah seorang Republiken,” kata Reagan, mengutip dari History, Kamis (30/3/2017). Operasi tersebut berjalan selama dua jam.

Keesokan harinya, Presiden Reagan dapat menjalankan tugas eksekutifnya walau harus dari atas tempat tidur rumah sakit dengan menandatangani sebuah dokumen legislatif. Ronald Reagan baru dapat kembali menikmati nyamannya Gedung Putih pada 11 April 1981.

Percobaan pembunuhan itu mengerek popularitas Ronald Reagan. Ia dianugerahi gelar pahlawan oleh Kongres AS pada penghujung April 1981. Kongres bahkan tetap mengesahkan program ekonominya yang kontroversial pada Agustus 1981 karena insiden tersebut. Hingga saat itu, Reagan mengklaim sudah sembuh total. Kenyataannya, ia masih merasakan efek berkelanjutan dari luka tembak tersebut hingga beberapa tahun lamanya.

Korban lainnya, yakni Timothy McCarthy dan Thomas Delahaney berhasil sembuh total. Sementara itu, James Brady yang hampir meregang nyawa karena tertembak di matanya, menderita kerusakan otak permanen. Brady kemudian memperjuangkan kontrol senjata. Pada 1993, Presiden Bill Clinton mengesahkan “Hukum Brady”, yakni aturan jeda waktu lima hari untuk pengecekan latar belakang bagi pembeli senjata.

Sang pelaku, John Hinckley Junior, dijatuhi sejumlah dakwaan tindakan kejahatan federal atas upayanya membunuh Presiden AS. Namun, ia dibebaskan dari segala tuduhan pada Juni 1982 dengan alasan kejiwaan.

Pengacaranya menuturkan, Hinckley menderita kelainan jiwa karena begitu terobsesi dengan film “Taxi Driver” di mana karakter utamanya berupaya membunuh seorang senator. Ia menonton film tersebut puluhan kali dan terobsesi dengan tokoh yang diperankan aktris Jodie Foster sehingga berupaya meniru aksi karakter tersebut di kehidupan nyata.

Putusan tidak bersalah itu memicu perdebatan publik karena Hinckley seharusnya dihukum setelah berupaya membunuh kepala negara. Kendati demikian, dengan mempertimbangkan bahaya bagi masyarakat luas, John Hinckley Junior ditempatkan di Rumah Sakit Jiwa Saint Elizabeth.

Pengacara Hinckley terus berupaya agar kliennya dapat bebas kembali. Ia mengajukan pendapat bahwa kejiwaan kliennya mulai membaik sehingga memiliki hak untuk menjalani hidup normal kembali. Hinckley akhirnya diperbolehkan keluar selama beberapa hari pada Agustus 1999 dengan pengawalan Dinas Rahasia. Ia juga boleh mengunjungi orangtuanya satu kali setiap pekan tanpa pengawasan. Jika kesehatan jiwanya sudah terbukti membaik, Hinckley akan dibebaskan suatu saat nanti.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini