Badai mengamuk pada 10 Januari, memisahkan Rolando dan pamannya dari kapal besar. Dua kerabat tersebut kemudian mencoba bertahan dengan perahu kecil dengan panjang sekitar 2 meter.
Lima hari setelah itu, mereka kehabisan bahan bakar. Kelaparan, kehausan, dan tak ada bahan bakar, lengkap sudah derita mereka. "Beberapa kapal lewat, namun mereka tak bisa melihat kami," kenang Rolando.
Sebulan berlalu, Rolando akhirnya harus berjuang sendirian. Reniel, pamannya meninggal. Rolando mengikat pamannya seadanya di perahu tersebut. Namun akhirnya Rolando tak kuasa terus menjaga tubuh pamannya, karena terus membusuk.
Dia akhirnya merelakan jenazah pamannya tenggelam. "Saya berdoa kepada Tuhan, tolong jaga paman saya. Saya harus tetap hidup, sehingga seseorang bisa membawa berita duka ini untuk kerabat kami. Saya terus berdoa," ujar Rolando.
Saat terapung-apung sendiri, Rolando berusaha untuk tidak kehilangan fokus untuk bertahan. Dia teringat kakeknya, yang menjadi inspirasi saat dia memutuskan menjadi nelayan. Kakeknya dikenal sebagai seorang nelayan yang kuat.