Image

Kisah Anak Engros dan Tobati, Harus Mendayung Perahu Kole-Kole Untuk Sekolah

Agregasi Jpnn.com, Jurnalis · Senin 03 April 2017, 18:53 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 04 03 340 1657902 kisah-anak-engros-dan-tobati-harus-mendayung-perahu-kole-kole-untuk-sekolah-mhjwKERwtv.jpg (Foto : Ilustrasi Okezone)

JAYAPURA - Untuk menempuh pendidikan di Kampung Engros dan Tobati yang letaknya di kawasan Teluk Youtefa, Papua memang tidak mudah. Sampai saat ini belum ada bangunan sekolah di wilayah tersebut.
Anak-anak terpaksa menyeberang untuk menempuh pendidikan di bangku sekolah di SD Inpres Tobati yang letaknya di bawah kaki Bukit Skyline. Setiap hari mereka yang bersekolah di SD itu berjalan kaki atau naik perahu maupun speedboat.
Misalnya, yang terlihat pada Sabtu (1/4). Begitu pukul 11.00, peserta didik mulai keluar dari ruang kelas. Satu per satu, setelah mencium tangan ibu-bapak guru, mereka lantas menuju dermaga kecil yang terbuat dari kayu.
Sambil menunggu speedboat datang, ada sebagian anak-anak yang memilih mandi. "Biasa kami begini kakak. Kalau speed-nya terlambat datang, kami mandi dengan pakaian ganti yang telah disediakan dari rumah," kata Melinda, siswa kelas VI, seperti dikutip dari JPNN.com, Senin (3/4/2017).
Siswa yang bercita-cita jadi dokter tersebut menuturkan, untuk ke sekolah, biasanya bangun pukul 05.00 WIT. Setelah mandi dan sarapan, Melinda menunggu speedboat di Dermaga Enjrous untuk ke sekolah.
"Kadang juga saya naik perahu kakak. Kalau speed-nya tak datang-datang, saya takut terlambat," ungkapnya.
Lain halnya dengan Albert. Untuk pergi ke sekolah, siswa kelas VI tersebut mendayung perahu kole-kole atau menumpang perahu katinting milik sahabatnya, anak Papua Nugini yang kini tinggal di Enjrous.
"Seperti ini terus kami kakak. Kalau hujan deras, kami tidak pergi ke sekolah karena takut basah. Kalau memilih ke sekolah, seragam sekolahnya pasti kami simpan dalam tas," jelasnya dengan polos.
Setiap hari para guru terus memotivasi peserta didik untuk tetap pergi ke sekolah demi masa depan mereka

JAYAPURA - Untuk menempuh pendidikan di Kampung Engros dan Tobati yang letaknya di kawasan Teluk Youtefa, Papua memang tidak mudah. Sampai saat ini belum ada bangunan sekolah di wilayah tersebut.

Anak-anak terpaksa menyeberang untuk menempuh pendidikan di bangku sekolah di SD Inpres Tobati yang letaknya di bawah kaki Bukit Skyline. Setiap hari mereka yang bersekolah di SD itu berjalan kaki atau naik perahu maupun speedboat.

Misalnya, yang terlihat pada Sabtu (1/4). Begitu pukul 11.00, peserta didik mulai keluar dari ruang kelas. Satu per satu, setelah mencium tangan ibu-bapak guru, mereka lantas menuju dermaga kecil yang terbuat dari kayu.

Sambil menunggu speedboat datang, ada sebagian anak-anak yang memilih mandi. "Biasa kami begini kakak. Kalau speed-nya terlambat datang, kami mandi dengan pakaian ganti yang telah disediakan dari rumah," kata Melinda, siswa kelas VI, seperti dikutip dari JPNN.com, Senin (3/4/2017).

Siswa yang bercita-cita jadi dokter tersebut menuturkan, untuk ke sekolah, biasanya bangun pukul 05.00 WIT. Setelah mandi dan sarapan, Melinda menunggu speedboat di Dermaga Enjrous untuk ke sekolah.

"Kadang juga saya naik perahu kakak. Kalau speed-nya tak datang-datang, saya takut terlambat," ungkapnya.

Lain halnya dengan Albert. Untuk pergi ke sekolah, siswa kelas VI tersebut mendayung perahu kole-kole atau menumpang perahu katinting milik sahabatnya, anak Papua Nugini yang kini tinggal di Enjrous.

"Seperti ini terus kami kakak. Kalau hujan deras, kami tidak pergi ke sekolah karena takut basah. Kalau memilih ke sekolah, seragam sekolahnya pasti kami simpan dalam tas," jelasnya dengan polos.

Setiap hari para guru terus memotivasi peserta didik untuk tetap pergi ke sekolah demi masa depan mereka.

(dnb)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini