Share

HISTORIPEDIA: Tragedi Pembantaian Rwanda dan Pertikaian Suku Hutu-Tutsi

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Jum'at 07 April 2017 06:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 04 06 18 1661041 historipedia-tragedi-pembantaian-rwanda-dan-pertikaian-suku-hutu-tutsi-rgOUK64Ntz.jpg Pengungsi Rwanda. (Foto: Every Culture)

PEMIMPIN umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus, menyampaikan permohonan maaf atas keterlibatan dan peran gereja dalam pembantaian atau genosida Rwanda pada 1994. Pengadilan Internasional PBB mendakwa empat orang pastor atas peran mereka dalam genosida tersebut pada 2001.

Salah satu yang dijatuhi hukuman adalah Pastor Athanse Seromba. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas peran aktifnya dalam pembunuhan sekira 2.000 warga suku Tutsi yang mencari perlindungan di gerejanya.

Pembantaian Rwanda dimulai dengan perang sipil antara suku Hutu dengan suku Tutsi. Akar permasalahan dimulai pada awal dekade 1990 ketika Presiden Juvenal Habyarimana yang berasal dari suku Hutu, menggunakan retorika anti-Tutsi sebagai jalan memuluskan kekuasaan.

Retorika tersebut berujung pada sejumlah tragedi pembantaian suku Tutsi pada Oktober 1990. Meski kedua suku tersebut memiliki banyak kesamaan, keragaman bahasa, serta kebudayaan selama bertahun-tahun, undang-undang mewajibkan registrasi ulang berdasarkan suku.

Pemerintah dan militer Rwanda kemudian memulai gerakan Interahamwe yang berarti serangan bersama-sama. Kedua pihak itu menyiapkan pemusnahan suku Tutsi dengan membekali senapan dan golok kepada suku Hutu. Januari 1994, pasukan PBB di Rwanda mengingatkan bahwa pembantaian besar-besaran sedang terjadi.

Pressiden Juvenal Habyarimana kemudian tewas karena pesawat yang ditumpanginya ditembak jatuh pada 6 April 1994. Tidak diketahui dengan pasti pelaku serangan tersebut, apakah organisasi militer suku Tutsi yang bernama Front Patriotik Rwanda (RPF), atau ekstremis Hutu yang sengaja melakukan hasutan untuk pembunuhan yang lebih masif.

Yang tercatat dalam sejarah, seperti dimuat History, Jumat (7/4/2017), adalah ekstremis Hutu di militer yang dipimpin oleh Kolonel Theoneste Bagosora kemudian beraksi. Mereka membunuh suku Tutsi dan suku Hutu yang dianggap berpaham moderat dalam hitungan jam usai kecelakaan tersebut.

Tepat pada 7 April 1994, 10 orang pasukan perdamaian PBB asal Belgia yang berujung penarikan pasukan perdamaian dari Rwanda. Segera setelahnya, stasiun-stasiun radio di Rwanda menyiarkan hasutan kepada suku mayoritas Hutu untuk membunuh seluruh suku minoritas Tutsi di negara tersebut.

Militer dan kepolisian nasional memimpin pembantaian tersebut. Mereka juga mengancam warga sipil dari suku Hutu yang tidak mempan dihasut. Ribuan orang tak berdosa segera menjadi korban hasutan tersebut. Para korban meregang nyawa akibat tebasan golok dari tetangganya.

Meski kejahatan mengerikan tersebut terpampang nyata, komunitas internasional termasuk sang penjaga perdamaian dunia Amerika Serikat (AS), ragu untuk mengambil tindakan. Presiden AS Bill Clinton menyebut kegagalan Negeri Paman Sam untuk menghentikan pembantaian tersebut sebagai penyesalan terbesar selama pemerintahannya.

Pembantaian berakhir setelah Front Patriotik Rwanda pimpinan Paul Kagame berhasil melakukan operasi militer untuk mengontrol negara tersebut. Pada pertengahan 1994, RPF mampu mengalahkan pasukan ekstremis Hutu dan mengusir mereka keluar dari Rwanda.

Namun, semua aksi tersebut sudah terlambat. Sebanyak 75% suku Tutsi yang tinggal di Rwanda serta kalangan moderat Hutu tewas dibunuh oleh ekstremis. Jika dikonversi ke angka, maka jumlah korban tewas mencapai sekira 1 juta orang.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini