DEMAK - Masjid Agung Demak berbeda dari kebanyakan bangunan masjid di Tanah Air, yang mengadopsi arsitektur Timur Tengah. Bahkan, masjid yang menjadi tempat berkumpulnya Walisongo itu, menjadi saksi sejarah untuk menelusuri jejak-jejak Kerajaan Majapahit.
Ciri khas masjid yang didirikan Raden Patah bersama Walisongo itu sudah terlihat dari luar. Atapnya berbentuk limas piramida yang identik dengan bangunan khas Jawa. Kemudian, ketika memasuki area masjid terdapat bangunan terbuka yang akrab disebut Serambi Majapahit.
Serambi seluas 31x15 meter persegi ini memiliki delapan pilar penyangga bergaya ukiran khas Majapahit. Sebagian kalangan berpendapat, tiang-tiang tersebut merupakan hadiah dari Raja Majapahit Prabu Brawijaya V kepada Raden Patah, yang tak lain adalah anak kandungnya dari istri bernama Putri Campa.
Namun, pendapat berbeda menyatakan tiang-tiang pendapa kerajaan itu bukan hadiah, melainkan hasil rampasan perang. Sebab, Prabu Brawijaya pernah dikudeta oleh Girindrawardana hingga mengangkat dirinya sebagai Raja Majapahit ke-12. Kemudian, Raden Patah yang juga Sultan Demak, melakukan penyerangan ke Majapahit untuk merebut kembali tahta ayahandanya.