nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ramadan di Negara Non-Muslim, WNI Harus Pintar Atur Jam Makan dan Salat

Silviana Dharma, Jurnalis · Jum'at 23 Juni 2017 22:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 06 21 18 1721913 ramadan-di-negara-non-muslim-wni-harus-pintar-atur-jam-makan-dan-salat-H0pZPK5KTf.jpg Wino Yourman Eusy (kanan belakang) saat buka puasa di China. (Foto: Istimewa/Wino Yourman Eusy)

BERPUASA di negara non-Muslim pada dasarnya tidak sesulit yang dibayangkan. Demikian menurut Wino Yourman Eusy, warga negara Indonesia (WNI) yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan S-2 di Renmin University of China.

Jika pun ada, pria kelahiran Batam itu mengatakan, paling-paling hanya ketika harus menjelaskan soal kewajiban berpuasa dan perubahan pengaturan jam makan dengan teman-teman yang non-Islam. Dari yang tadinya bisa sama-sama ke kantin untuk makan siang atau pergi ke suatu tempat untuk ngemil sore, selama Ramadan, Wino harus menolak ajakan teman-temannya tersebut.

Bagi Wino, beribadah di negara dengan Islam sebagai agama minoritas, membuatnya harus pintar-pintar mengatur jam makan dan salat. Apalagi kondisinya, di negara non-Islam pasti tidak ada adzan maupun siaran televisi yang memperingatkan waktu ibadah dan berbuka puasa.

Ia mengungkap, cara mengakalinya bisa dengan memasang aplikasi salat di ponsel pintar masing-masing. Kemudian ya saling mengingatkan sesama Muslim untuk jam-jam salat, mulai puasa lagi dan berbukanya.

“Juga harus sering membawa sajadah saat ada kelas maupun berpergian. Secara pribadi, saya merasa tertantang dan lebih tawadu kepada Allah swt. Intinya di sini, istiqomah saja yang kuat,” bebernya.

Mentari Puspa Ferisa menikmati buka puasa bersama teman-teman di China. (Foto: Istimewa/Mentari Puspa Ferisa)

Sementara bagi Mentari Puspa Ferisa, WNI yang berkuliah di Beijing, menjalani puasa di negeri orang cukup merepotkan. Sebab ketika jam makan tiba, semua orang mengajak makan dan dia merasa tidak tahu harus bilang apa.

“Karena kalau saya pakai alasan sedang diet, nanti dibilang sok. Tapi kalau jujur bilang lagi puasa, nanti ditanya-tanya itu apa. Malas jelasinnya,” tutur Puspa.

Alhasil, seperti Wino, bagaimanapun Puspa tetap harus menolak karena ditawarin kan enggak juga menolaknya. Sementara kalau diiyakan, tentu menyalahi ajaran agamanya.

“Mau tolak enggak enak, tetapi enggak boleh makan juga. Jadi saya biasa bilang, ’Oh maaf, saya enggak suka’. Tapi jawab begini juga risikonya nanti setelah bulan puasa lewat, mereka tidak menawarkan lagi ke saya karena tahu saya tidak suka. Kalau begini, rasa ribet dan sedih jadi satu,” curhatnya.

Tak jarang, Puspa juga terpaksa melewatkan jam makan malam bersama teman-temannya. Pasalnya, jam berbuka di China itu berbeda dengan di Indonesia. Kalau di Jakarta buka sekira pukul 17.50, di Beijing puasanya 16,5 jam dan baru buka sekira pukul 19.33.

(Sil)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini