Tidak mendapatkan pasokan makan di tengah pulau yang terisolasi, Columbus pun mulai mencari jalan keluar agar suku India Arawak kembali bersikap ramah kepadanya. Columbus ingat bahwa ia membawa almanak buatan Abraham Zacuto. Buku tersebut mengulas mengenai tabel astronomi untuk periode 1475 hingga 1506.
Ketika membaca buku tersebut, ia mendapatkan prediksi waktu datangnya gerhana bulan dan Columbus pun menggunakan informasi itu sebagai “senjata”nya. Ia kemudian meminta waktu untuk bertemu dengan ketua suku India Arawak .
Pada pertemuan itu, Columbus mengatakan kepada ketua suku tersebut bahwa dewa telah marah terhadap suku India Arawak akibat perlakuan mereka terhadap Columbus dan awak kapalnya. Columbus sebut pertanda dewa marah adalah munculnya kegelapan serta terbitnya bulan yang “dibakar amarah”.
Gerhana bulan dan munculnya bulan merah datang tepat sesuai perkataan Columbus dan membuat suku India Arawak ketakutan dan memohon kepada sang penjelajah asal Italia itu untuk meredakan amukan dewa.
Columbus pun pergi ke kabinnya dengan mengklaim akan berdoa. Sendirian di dalam kabin, Columbus pun kemudian menghitung waktu gerhana bulan itu dengan jam pasirnya yang diperkirakan akan memakan waktu selama 48 menit.
Segera sebelum gerhana bulan itu berakhir, Columbus mengumumkan kepada suku India Arawak bahwa mereka telah dimaafkan. Tidak lama setelah itu, bulan pun kembali muncul dan Columbus bersama awaknya terus diberikan makanan oleh suku India Arawak hingga kapal bantuan datang dan mengevakuasi mereka pada 29 Juni 1504.
(Emirald Julio)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.