PADA pukul enam sore, 23 Juli 1914, hampir satu bulan setelah pembunuhan Pangeran Austria Franz Ferdinand dan istrinya oleh seorang nasionalis muda Serbia di Sarajevo, Bosnia, duta Kekaisaran Austria-Hungaria untuk Serbia, Baron Giesl von Gieslingen menyampaikan ultimatum kepada kementerian luar negeri Serbia. Ultimatum yang berisi sejumlah tuntutan Austria-Hungaria kepada Serbia menjadi kejadian yang mengawali pecahnya Perang Dunia I.
Bertindak dengan dukungan penuh dari sekutunya di Berlin, Austria-Hungaria telah memutuskan setelah pembunuhan Franz Ferdinand untuk mengejar kebijakan garis keras terhadap Serbia. Rencana mereka, yang dikoordinasikan dengan kantor luar negeri Jerman, adalah untuk memicu sebuah konflik militer yang diharapkan berakhir dengan cepat dan pasti dengan kemenangan Austria sebelum negara-negara Eropa lain yaitu sekutu kuat Serbia, Rusia - sempat bereaksi.
Dilansir dari History, Minggu (23/7/2017), ultimatum yang dikirimkan oleh Baron Giesl itu menuntut Pemerintah Serbia untuk menerima penyelidikan Austria-Hungaria atas pembunuhan Franz Ferdinand. Serbia juga harus menekan semua propaganda anti-Austria dan mengambil langkah-langkah untuk membasmi dan menghapuskan organisasi teroris di wilayah perbatasannya.
Austria-Hungaria menuntut jawaban atas tuntutan tersebut dalam waktu 48 jam. Pada saat itu, Baron Giesl yang telah mengantisipasi penolakan Serbia telah mengemasi tasnya dan bersiap untuk meninggalkan kedutaan di Sarajevo.