Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kegigihan Anak-Anak Kampung Bajo Menimba Ilmu, Menerjang Ombak Menuju Sekolah Laut

Asdar Zuula , Jurnalis-Senin, 07 Agustus 2017 |11:52 WIB
Kegigihan Anak-Anak Kampung Bajo Menimba Ilmu, Menerjang Ombak Menuju Sekolah Laut
Foto: Asdar Zuula/iNews
A
A
A

KENDARI - Jarum jam menujukkan pukul 14.00 Wita siang itu di Kampung Bajo, Desa Sama Jaya, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra). Sinar mentari begitu terik dan sekelompok anak laki-laki juga perempuan, tampak bergegas ke perahu.

Anak-anak Kampung Bajo itu akan menuju sekolah laut, sekolah yang digagas Kepala Desa Sama Jaya, Rizal (32 tahun). Terik mentari dan gelombang tak mereka hiraukan. Terpenting, tiba sekolah laut tepat waktu.

Anak-anak harus berperahu sebab satu rumah dengan rumah lainnya di Kampung Bajo jaraknya berjauhan dan terpisahkan oleh lautan. Kampung Bajo didiami sekira 86 Kepala Keluarga.

Gedung sekolah laut sebenarnya rumah sang kepala desa. Ada sekira 30 anak-anak Kampung Bajo yang menjadi murid sekolah laut. Selain sekolah di sana, mereka juga bersekolah formal setiap harinya dari pagi hingga siang.

Murid sekolah laut tak menggunakan seragam, tapi mereka harus disiplin waktu dan patuh terhadap aturan. Sebelum masuk ruang belajar, puluhan murid mengikuti apel yang dipimpin murid laki-laki. Penggagas sekolah laut yang juga Kepala Desa Sama Jaya, Rizal, memberikan pengarahan di waktu tersebut.

 

Di sekolah laut, murid diajarkan bahasa Inggris, matematika, budaya Suku Bajo dan pariwisata. Tenaga pengajarnya hanya beberapa orang, warga desa setempat yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Mereka bekerja se-ikhlasnya tanpa menuntut honor.

Resti, salah satu murid sekolah laut yang usinya menginjak 11 tahun, mengaku senang menjadi bagian dari sekolah laut. Dia dapat mengulang pelajaran yang didapat di sekolah formal di sekolah laut, juga dapat bertanya kepada pengajar bila ada mata pelajaran yang dirasa sulit.

Resti paling suka belajar Bahasa Inggris. Lebih-lebih dia bercita-cita menjadi dokter, sehingga butuh banyak belajar agar mudah masuk perguruan tinggi. "Biasa hari-hari belajar di sini, ada manfaatnya, setiap hari belajar bahasa Inggris," kata Resti.

 

Sementara itu, Rizal mengaku menggagas sekolah laut karena keperihatinan semakin terkikisnya budaya Suku Bajo. Anak-anak kini kurang tertarik dengan kebudayaan sendiri, sehingga muncul ide membangun sekolah yang dipadu dengan pelajaran umum serta budaya.

"Kegiatan ini agar anak-anak mengetahui tentang budaya dan bahasa Inggris. Budaya itu menguatkan mereka untuk menggali kembali potensi-potensi budaya yang mulai terkikis atau hilang," jelas Rizal.

"Bahasa Inggris itu tantangan hidup untuk menyikapi perkembangan pariwisata. Kami sebagai orang lokal yang berada di tengah-tengah laut, bagaimana bisa berkomunikasi dengan dari luar sana tanpa berbahasa Inggris," kata Rizal.

Rizal menambahkan, sekolah laut berdiri sejak lima tahun lalu. Angkatan pertama sekolah laut Desa Sama Jaya saat ini sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah.

(Risna Nur Rahayu)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement