MALANG - Mulia betul apa yang dilakukan Muhammad Badrun. Pria yang berprofesi sebagai guru asal Bima, Nusa Tenggara Baat (NTB) itu mengembalikan amplop gaji yang berisi uang tunai Rp2 juta rupiah lebih ke pmiliknya yang diketahui seorang anggota polisi bernama Iptu Sugeng Riyanto. Uniknya, ia mengembalikan amplop gaji itu setelah 11 tahun kemudian.
Kisah Badrun dan Iptu Sugeng dibagikan oleh akun Facebook Yuni Rusmini pada Rabu (16/8/2017). Disebutkan bahwa perkenalan kedua 'sahabat' ini berawal saat telefon genggam milik Sugeng yang kini menjabat sebagai Kepala Unit (Kanit) Resmob Polres Malang Kota bergetar. Panggilan masuk itu ternyata berasal dari salah satu anggotanya di Satresmob Polres Malang Kota, Bripka Didik.
Saat itu Bripka Didik bertanya kepada Sugeng apakah dirinya pernah kehilangan uang gaji berserta slipnya di sebuah masjid. Mendengar pertanyaan itu, Sugeng kembali teringat akan masa-masa sulitnya sekitar antara tahun 2005 dan 2006. Sugeng pun membenarkan ia pernah mengalami kejadian miris itu.
“Iya, benar” kata Sugeng menjawab pertanyaan Bripka Didik kala itu.
Bripka Didik lalu memberitahu ke Iptu Sugeng bahwa dirinya sedang bersama seorang pria paruh baya bernama Muhammad Badrun yang mengaku ingin bertemu dengan Sugeng. Dari situlah pertemuan mengharukan antar keduanya terjadi. Ya, Badrun 'ngotot' ingin bertemu Sugeng karena mau mengembalikan uang gaji lengkap dengan slipnya yang sudah 11 tahun silam dinyatakan hilang.
“Subhanallah, 11 tahun yang Lalu? dan uang gaji saya kembali! Bukankah ini sebuah kebesaran Tuhan yang ditampakkan di depan saya?,” ujar Sugeng terkagum-kagum dengan apa yang dilakukan Badrun.
Dengan hati riang dan wajah semringah, Sugeng lantas bergegas untuk menemui Badrun saat itu juga. Bagi Sugeng, bukan jumlah uang yang dipersoalkan, namun kemuliaan hati pria asal Kelurahan Rabangodu Utara, Kecamatan Raba, Kota Bima itu yang langka dimiliki kebanyakan orang.
"Saya harus menemui orang itu untuk mengucapkan rasa terima kasih,” terang Sugeng.
Sugeng yang ditemui di rumahnya di Pondok Mutiara Asri E8, Dusun Krajan, Desa Pandanlansung, Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur kemudian bercerita ihwal gajinya yang hilang pada Oktober 2006 silam. Ia tak menampik jika saat itu kondisinya serba sulit. “Waktu itu saya sedang sulit karena memang harapannya hanya dari gaji saja,” ucap Sugeng.
Ia bercerita, saat itu ia masih berpangkat Brigadir dan bertugas di Resnarkoba. Kala itu dirinya berangkat ke kantor untuk mengambil gaji. Selepas mengambil gaji yang berjumlah Rp 2.077.500 ia menjalankan tugas rutinnya sebagai anggota Korps Bhayangkara.
Saat tiba waktu ashar, ia melintas di kawasan Polowijen, Blimbing, Kota Malang. Saat itulah Sugeng menyempatkan salat di sebuah masjid. Ia ingat betul jika slip gaji ia simpan di saku kanan depan bersama dengan telefon genggamnya. Ketika selesai salat, ia langsung pulang. Nahas, begitu sampai di rumah, Sugeng baru sadar jika slip gajinya telah raib entah kemana.
Ia sempat kembali ke masjid itu untuk menanyakan slip gajinya yang tercecer kepada penjaga masjid. Namun, usahanya itu tak membuahkan hasil. Sugeng pun kembali ke rumahnya dengan perasaan kalut bercampur depresi. Betapa tidak, uang gaji itu sangat diharapkannya untuk biaya renovasi rumah dan membayar tukang. Apa boleh dikata, Tuhan saat itu memang sedang menguji kesabaran Sugeng.