PADA masa Perang Dunia I (PDI) terdapat aksi yang bernama Kampanye Bulu Putih atau ‘White Feather Campaign’ di Inggris. Aksi tersebut dilakukan oleh kumpulan aktivis wanita. Aksi tersebut dengan cara membagikan bulu berwarna putih kepada pria yang lalu lalang di jalan raya. Pria yang mereka beri bulu putih merupakan pria yang menurut mereka sepantasnya mengikuti perang.
Aksi ‘White Feather Campaign’ bertujuan agar pria yang dianggap sehat merasa malu karena tidak ikut perang. Bulu putih itu sendiri merupakan simbol dari ‘pengecut’. Meski apabila dilihat secara sekilas aksi ini bagus yaitu agar para pria tidak hanya berpangku tangan di tengah perang, namun terkadang aksi ini juga salah sasaran. Para aktivitis wanita pun juga dinilai tidak paham akan konsekuensi dari yang mereka perbuat.
Kriteria penilaian dari pria yang mereka beri bulu putih berdasarkan pandangan mereka saja. Mereka melihat seorang pria yang mereka nilai layak untuk bertugas sebagai tentara. Selain tidak ada pemahaman emosional, kampanye tersebut tidak memiliki penilaian tersendiri untuk setiap pria, seperti yang dikutip dari The Vintage News, Sabtu (2/9/2017).
Namun, bulu yang mereka bagikan salah sasaran. Seperti diberikan kepada anak laki-laki yang tidak layak untuk menjadi tentara karena usia mereka, pria yang memiliki profesi penting, pria yang tidak layak perang karena cacat fisik, dan yang terburuk, mereka pernah memberikan bulu putih kepada para veteran yang telah dipecat dengan terhormat dari tentara. Hal tersebut membuat frustrasi anak laki-laki muda yang ingin membuktikan maskulinitas mereka, menyinggung pria yang mencoba mendaftar namun ditolak karena tidak layak, dan sangat tidak sopan dan tidak tahu berterima kasih kepada para veteran.
Seorang pria yang menjadi korban salah sasaran bulu putih meninggal dalam perang. Keponakan sang pria menceritakan, saat pecahnya perang pada 1914, dia mencoba untuk mendaftar sebagai seorang tentara namun gagal karena ada masalah pada penglihatannya. Dua tahun setelah ia gagal tes tentara, pria tersebut usai bekerja dan bermaksud pulang ke rumah, tempa ia dapat bertemu istri dan ketiga putrinya. Namun dalam perjalanan pulang, seorang wanita memberikannya sebuah bulu putih. Pria tersebut pun kesal dan bingung