Sebelum Guzman, remaja pertama yang tewas diketahui bernama Carl Angelo Arnaiz. Pemuda berusia 19 tahun itu sempat hilang selama 20 hari dan diduga diculik polisi. Ia meninggal dengan cara ditembak oleh polisi yang menuduhnya telah merampok supir taksi.
Baca Juga: Astaga! Bunuh Seorang Pelajar Terkait Kasus Narkoba, Polisi Filipina Tuai Kecaman
Kemudian remaja kedua diketahui bernama Kian Loyd Delos Santos yang baru berusia 17 tahun. Berdasarkan keterangan resmi Pemerintah Filipina, Santos ditembak karena melakukan perlawanan dan melepaskan tembakan terhadap polisi. Namun, keterangan tersebut diragukan publik setelah sebuah saluran televisi lokal menampilkan rekaman cctv terkait kronologi kejadian. Rekaman cctv tersebut menunjukkan, Santos secara paksa dibawa oleh dua orang polisi ke sebuah wilayah di mana kemudian mayatnya ditemukan.
Pada akhir Agustus, polisi telah menembak mati 67 orang dan menangkap lebih dari 200 orang di Manila serta wilayah di sekitarnya. Penembakan tersebut dilakukan dalam program 'One-Time, Big-Time' untuk mengendalikan narkoba dan kejahatan jalanan.
Operasi tersebut biasa dilangsungkan di wilayah lingkungan kumuh dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Sebagaimana diketahui pemberantasan Narkoba Presiden Duterte yang tak segan membunuh para pelakunya memang kerap mendapat protes dan kecaman dari Badan Hak Asasi Manusia (HAM) internasional. Namun, presiden kontroversial tersebut terkesan acuh dengan kritik yang dilontarkan padanya itu.
(Rufki Ade Vinanda)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.