Image

Tokoh Muslim Minoritas Akan Disumpah sebagai PM Baru Timor Leste

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 14 September 2017, 14:33 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 14 18 1775832 tokoh-muslim-minoritas-akan-disumpah-sebagai-pm-baru-timor-leste-fmAOh6zKCE.jpg Sekretaris Jenderal Fretilin Mari Alkatiri dinominasikan sebagai PM baru Timor Leste. (Foto: Gulf Today)

DILI – Timor Leste bersiap mengambil sumpah Mari Alkatiri untuk menjalani masa jabatan keduanya sebagai perdana menteri (PM) di negara itu pada Kamis, 14 September. Sekretaris Jenderal Partai Fretilin itu akan menghadapi tantangan berat untuk meningkatkan perekonomian Timor Leste yang sangat bergantung pada minyak dan gas.

“Hari ini saya umumkan kepada semua rakyat bahwa presiden telah menominasikan Dr. Mari Alkatiri untuk menjadi perdana menteri,” demikian disampaikan Presiden Timor Leste Francisco Guterres dalam sebuah konferensi pers sebagaimana dikutip Reuters, Kamis (14/9/2017).

Guterres meminta rakyatnya untuk tetap tenang dan mengatakan bahwa Alkatiri akan membentuk pemerintahan minoritas. Dia memperkirakan, pengambilan sumpah Alkatiri akan dilakukan pada Kamis atau Jumat pekan ini.

"Yang paling penting adalah politisi perlu memikirkan bagaimana menjaga stabilitas pemerintahan di masa depan dan menjamin perdamaian," tambahnya.

Pengangkatan Alkatiri sebagai PM baru Timor Leste terjadi setelah kemenangan Fretilin dalam pemilihan umum yang digelar Juli lalu. Meski menang, Fretilin gagal mendapat suara mayoritas di parlemen dan harus berkoalisi dengan partai yang lebih kecil.

Sejak 2015, Fretilin telah berkoalisi dengan Partai National Congress for Timorese Reconstruction yang didirikan pejuang revolusi Timor Leste, Xanana Gusmao.

Alkatiri yang merupakan seorang Muslim di negara yang mayoritas rakyatnya menganut Katolik, sempat diasingkan di Mozambik selama beberapa dekade di saat Timor Leste berusaha memisahkan diri dari Indonesia.

Setelah Timor Leste merdeka pada 2002, Alkatiri diangkat menjadi PM pertama negara baru itu. Dia mengundurkan diri setelah terjadi gelombang kerusuhan yang berujung pada pemecatan 600 prajurit pada 2006 .

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini