nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Isu Agama Terkait Kekerasan Etnis Rohingya, Suu Kyi: Kami Tidak Ingin Myanmar Terbelah Akibat Keyakinan

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Selasa 19 September 2017 14:55 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 19 18 1778872 isu-agama-terkait-kekerasan-etnis-rohingya-suu-kyi-kami-tidak-ingin-myanmar-terbelah-akibat-keyakinan-JAssZ5JF6Q.jpg Aung San Suu Kyi. (Foto: Reuters)

NAYPYIDAW - Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, akhirnya buka suara terkait kekerasan yang menimpa etnis Rohingya. Ia mengakui bahwa dirinya paham akan dunia yang kini memerhatikan krisis di Rakhine, terutama kepada masyarakat etnis Rohingya. Sebagai anggota masyarakat internasional yang bertanggung jawab, Myanmar disebutnya tidak takut akan pengawasan dari dunia.

“Saya sadar bahwa dunia menaruh perhatian pada situasi di Rakhine State. Sebagai anggota masyarakat internasional yang bertanggung jawab, Myanmar tidak takut akan pengawasan dunia internasional,” ungkap Aung San Suu Kyi dalam pidato nasional di Naypyidaw, mengutip dari The Guardian.

Suu Kyi juga menyatakan agar dunia segera berhenti menyalahkan kelompok etnis atau tentara terkait kekerasan yang terjadi. Suu Kyi berjanji untuk menghukum siapa pun yang terbukti bersalah melakukan pelanggaran, terlepas dari agama, ras, atau posisi politik.

“Kami tidak ingin Myanmar menjadi negara yang terbelah akibat keyakinan atau perbedaan etnis. Kita semua memiliki hak atas beragam identitas kita,” tegasnya, dilansir dari AFP, Selasa (19/9/2017).

Sekadar diketahui, Aung San Suu Kyi mengklaim bahwa mayoritas warga di desa-desa yang dihuni etnis Rohingya tidak terkena dampak dari kekerasan yang dilakukan militer Myanmar. Ia mengatakan, militer yang selama ini dituduh melakukan pembakaran dan pembunuhan secara diskriminatif, sudah diinstruksikan untuk menahan diri dan menghindari dampak berkepanjangan.

Selain itu, ia juga menyatakan bahwa Pemerintah Myanmar masih harus mencari tahu lebih terkait problem sesungguhnya di Rakhine State. Sebab, ada banyak tuduhan dan kontra-tuduhan yang harus diselidiki terlebih dahulu agar tidak menimbulkan chaos yang lebih jauh lagi.

Patut dicatat bahwa selama pidato nasional itu, Suu Kyi hanya sekali menggunakan nama Rohingya. Penggunaan tersebut dilakukan untuk merujuk pada kelompok militan Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA).

“Kami sangat prihatin mendengar sejumlah Muslim melarikan diri ke Bangladesh. Kami ingin mencari tahu alasan dari para warga yang melakukan eksodus ini,” tandas Aung San Suu Kyi.  

(pai)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini