Marcos memerintah Filipina dari 1965 sampai 1986 dan dikenal sebagai diktator yang memberlakukan hukum militer di negara itu. Marcos mengumumkan status darurat militer di Filipina pada 1972, mengawali sebuah pemerintahan teror yang dituduh menculik, membunuh, menyiksa dan ‘melenyapkan’ lawan-lwan politiknya.
Rezim Marcos berakhir setelah dia digulingkan di tengah pergolakan politik Filipina pada 1986. Setelah dilengserkan, Marcos melarikan diri ke Hawaii di mana dia hidup dalam pengasingan sampai meninggal dunia pada 1989.
BACA JUGA: Remaja Ditemukan Tewas dengan 30 Tusukan, Perang Narkoba Duterte Kembali Makan Korban
Duterte yang meliburkan sekolah dan pegawai pemerintah pada Kamis, 21 September untuk memberi kesempatan warga berdemonstrasi, diketahui pernah beberapa kali mengungkapkan kekagumannya pada sosok Marcos. Dia juga mengizinkan jenazah Marcos yang dibenci sebagian besar rakyat Filipina, untuk dimakamkan di Libingan ng mga Bayani atau taman makam pahlawan Filipina.
Selain itu, perang melawan narkotika Duterte yang telah menewaskan ribuan warga Filipina serta kebijakannya untuk menetapkan status darurat militer di selatan Filipina tahun ini juga menjadi sasaran kritik dari lawan-lawan politiknya.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.