BALI tiba-tiba gelap dan seluruh kawasan tertutup abu menyusul letusan Gunung Agung pada Februari 1963, itulah sejumlah kesaksian mereka yang mengalami letusan terakhir gunung tertinggi di Pulau Dewata itu.
"Malam (seolah) terjadi dua kali, jam dua sudah gelap tak keliatan apa-apa. Gelap gulita, anak-anak dipulangkan," cerita Ida Peranda Kania, yang saat letusan terjadi menjadi kepala SD Sangeh, Badung Utara, yang terletak sekitar 50 kilometer dari kawasan bencana.
(Baca juga: Waspada! Ini Tanda-Tanda Potensi Gunung Agung Meletus Semakin Kuat)
Nyoman Adi Wiryatama, Ketua DPRD Bali yang saat itu berusia delapan tahun juga mengenang gelapnya kondisi saat itu. "Hari itu menjadi gelap sekali, dan hujan pasir tambah deras... dibilang dunia mau kiamat, selesailah dunia ini, cerita orang tua," kata Adi kepada BBC Indonesia.
(Sungai di Bali berlumpur setelah Gunung Agung meletus tahun 1963. Foto: Robert F Sisson/National Geographic/Getty Images/BBC Indonesia)
Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, Petajuh Bendesa Agung Majelis Utama Masyarakat Adat Bali, mengingat upacara besar Eka Dasa Rudra di Pura Agung Besakih yang diselenggarakan di tengah letusan yang terjadi.
"Upacara berlangsung selama satu bulan dan persiapan dilakukan selama tiga bulan sebelumnya, di tengah letusan dan saat terjadi tanda-tanda akan meletus. Kami sangat bersyukur Eka Dasar Ludra berjalan baik," kata Sukahet.
Saat ini sekitar 50.000 jiwa sudah mengungsi di tengah aktivitas gunung yang sudah pada tahap awas sejak Jumat (22/09).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan letusan terakhir yang menelan korban lebih dari 1.500 orang menyebabkan materi vulkanik terbang lebih dari 14.000 kilometer dan suhu Bumi turun 0,4 derajat Celcius.
Inilah rangkuman cerita dari mereka yang mengalami letusan terakhir Gunung Agung 54 tahun lalu.
Ida Peranda Kania
"Saya saat itu mengajar di desa, dan letusan terasa sampai di daerah Badung Utara. Tiga hari setelah letusan Gunung Agung ada hujan abu," kata Ida yang saat ini berusia 81 tahun.
"Malam dua kali, jam dua sudah gelap tak keliatan apa-apa. Gelap gulita. Anak-anak dipulangkan dulu karena di desa tak ada listrik. Sudah itu jam empat terang lagi seperti sore."
"Dari selatan desa, keliatan apinya gunung api itu... getarannya terasa... dan setelah hujban abu, daun-daun penuh dengan debu," tambah Ida.
Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet
"Umur saya delapan tahun, saat itu dan tinggal di Klungkung, 20 kilometer di selatan Gunung Agung," kata Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet yang juga Ketua Umum Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama Indonesia.
"Pertama kali meletus, kami di Klungkung, di rumah, beberapa hari kemudian, kami diajak oleh orang tua, untuk "ngayah" (bantu-bantu) ke Pura Besakih untuk upacara besar Eka Dasa Rudra di Besakih," katanya.
"Masyarakat Bali berbondong-bondong ke Besakih. Saat letusan terjadi ada upacara Eka Dasa Rudra. Kami sedang di Besakih beserta para pendeta dan ribuan umat. Kami diminta orang tua pakai topi supaya tak kena debu dan kerikil-kerikil dari letusan itu," ujarnya.
"Tak ada persiapan masker, hidung telanjang, mata telanjang selama satu tahun."
"Upacara berlangsung satu bulan dan persiapan, selama tiga bulan sebelumnya. Persiapan dilakukan di tengah letusan dan saat terjadi tanda-tanda letusan."
"Belakangan tahu bahwa ada warning (peringatan) dari pemerintah pusat waktu itu tentang bahaya. Meminta setelah puncak karya agar tanggal 9 maret Besakih dikosongkan tapi para tokoh umat Hindu dan para pendeta bertekad menyelesaikan upacara besar di Besakih."
"Kami sangat bersukyur Eka Dasa Ludra berjalan baik...tak ada hembusan panas, seolah kami dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa dan melindungi tempat paling disucikan di seluruh Bali."
Nyoman Adi Wiryatama
"Saat itu terjadi hujan abu dan hujan pasir. Saya ke ladang dan gelap sekali. Kami pakai payung kecil yang jadi berat sekali karena hujan pasir makin deras, bumi menjadi gelap, dipanggil pulang oleh orang tua," kata Adi yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPRD Bali.
"Saat itu jam 9 pagi, matahari tak ada... orang tua menyalakan lampu petromak. Kami dikumpulkan di satu bangunan. Cerita orang tua, dunia akan kiamat."
"Seingat saya gelapnya satu hari penuh, hujan abu tiga bulanan dan terakhir hujan pasir satu minggu kira-kira."
Adi juga mengatakan akibat letusan gunung banyak yang mengalami kesulitan karena ladang-ladang rusak.
"Sulit sekali (kondisinya), (area) pertanian jadi rusak, mati semua tanaman, ternak tak mau makan karena rumput berbau belerang, rumput kita bawa ke sungai dan kita cuci, kadang mau makan kadang tidak (dan akibatnya) ternak jadi kurus."
"Kira-kira merasakan dampak satu tahun, kami bertani dan harus membersihkan pasir dulu."
Namun di tengah itu semua, Adi mengatakan ia mendapatkan banyak teman baru karena warga yang tinggal di Karangasem, area seputar Gunung Agung mengungsi ke berbagai tempat termasuk ke Desa Angsri, Tabanan, tempat Adi tinggal.
"Teman-teman dari dekat Besakih mengungsi dan kita punya teman baru akhirnya...sampai satu tahun teman-teman baru tinggal di kampung saya," cerita Adi.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.