Share

Jadikan Hewan Ternak Sebagai Komoditas Utama, NTB Malah Kekurangan Dokter Hewan

Agregasi Antara, · Jum'at 29 September 2017 08:05 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 28 340 1785089 jadikan-hewan-ternak-sebagai-komoditas-utama-ntb-malah-kekurangan-dokter-hewan-01tJBDTN9B.jpg

MATARAM - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masih kekurangan sebanyak 49 dokter hewan untuk melayani masyarakat di setiap kecamatan.

"Jumlah dokter hewan saat ini sebanyak 70 orang, sementara NTB memiliki 116 kecamatan. Idealnya satu kecamatan memiliki satu dokter hewan," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB H Aminurrahman di Mataram.

Menurut dia, keberadaan dokter hewan sangat penting karena NTB memiliki aset berupa ternak ruminansia yang dipelihara oleh para peternak.

Ternak sebagai penghasil daging konsumsi perlu mendapatkan perhatian serius agar terhindar dari berbagai jenis penyakit hewan, terutama yang bisa menular ke manusia.

Aminurrahman yang didampingi Kepala Bidang Kesehatan Hewan drh Bima Priyatmaka, menyebutkan populasi sapi di daerahnya sudah mencapai 1,1 juta ekor. Belum termasuk kerbau, kambing dan unggas.

"Dengan jumlah populasi sapi yang sudah mencapai jutaan ekor, mestinya ada 500 dokter hewan yang menanganinya," ujarnya.

Pihaknya hingga saat ini belum bisa menambah jumlah tenaga dokter hewan karena masih berlakunya moratorium penerimaan calon pegawai negeri sipil.

Pemerintah Provinsi NTB juga tidak bisa mengangkat tenaga honorer untuk mengisi kekurangan tenaga dokter hewan yang bisa ditempatkan di kecamatan-kecamatan dengan populasi ternak ruminansia yang relatif banyak.

"Kalau misalnya diberikan ruang untuk menampung tenaga honorer, bisa menjadi solusi kekurangan dokter hewan," ucapnya pula.

Meskipun kekurangan tenaga dokter hewan, kata Aminurrahman, NTB masih tetap mampu mempertahankan status bebas penyakit hewan berbahaya.

Hal itu dikuatkan dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian yang menyatakan NTB bebas dari penyakit hewan berbahaya.

Menurut dia, penilaian tersebut yang mempengaruhi ketertarikan provinsi lain untuk membeli sapi potong dan sapi bibit dari NTB, setiap tahun.

"Sapi NTB cukup diminati daerah lain, terutama Kalimantan dan Sulawesi. Makanya, potensi tersebut harus dijaga oleh petugas-petugas di lapangan," katanya.

(ydp)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini