Selama menjadi presiden, Sadat memiliki catatan yang luar biasa untuk kemajuan Mesir. Dia berperan penting dalam memenangkan kemerdekaan dan demokratisasi negara tersebut.
Namun, perundingan perdamaian kontroversialnya dengan Israel pada 1977-1978 membuat banyak orang tak menyukainya. Perundingan tersebut menghasilkan janji yang mengatakan bahwa Israel keluar dari Semenanjung Sinai, pembebasan Terusan Suez, dan mengakui Selat Tiran dan Teluk Aqaba sebagai perlintasan air antarbangsa. Tindakan Sadat tersebut dinilai sebagai pembelot terhadap Arab.
Dari perundingan itu, dia dan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin, memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian. Hal inilah yang menjadikannya sasaran ekstremis Islam di Timur Tengah.
Selain karena perjanjian tersebut, Sadat juga membuat banyak orang marah dengannya karena membiarkan Shah Iran yang sakit, tewas di Mesir. Ia memutuskan melakukan hal tersebut, ketimbang memintanya kembali ke Iran agar diadili atas kejahatannya terhadap negaranya.
Setelah Sadat tewas, Hosni Mubarak mengambil alih kepemimpinan. Ia langsung melakukan penyelidikan untuk menangkap orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan Sadat. Ratusan orang yang telah berpartisipasi dalam rencana pembunuhan presiden ketiga Mesir tersebut berhasil ditangkap dan diadili.
Berdasarkan hasil penyelidikan, tuduhan diajukan kepada 25 orang. Mereka diadili pada November 1981. Banyak dari mereka yang ditangkap mengaku tidak menyesal. Mereka justru merasa bangga mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan Sadat.
Islambouli dan empat orang lainnya dijatuhi hukuman mati. Sementara 20 lainnya dijatuhi hukuman penjara. (DJI)
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.