“Saya tidak bahagia di Myanmar karena mereka membunuh orang dan menghancurkan segalanya. Karena itu saya datang ke sini. Saya bahagia berada di Bangladesh,” ujar Mohammad Saleem, mengutip dari Voice of America, Jumat (6/10/2017).
Ia rela menyeberangi perbatasan antara Myanmar dengan Bangladesh bersama keluarganya pada 26 September. Saleem pun mendapatkan kartu identitas sebagai warga Myanmar beberapa hari lalu. Saking berharganya, kartu identitas milik istri dan putrinya dikalungkan Saleem di lehernya agar tidak hilang.
BACA JUGA: Pengungsi Makin Membeludak, Bangladesh Akan Bangun Kamp Terbesar di Dunia untuk Muslim Rohingya
Otoritas Bangladesh saat ini memiliki tugas berat untuk mendaftarkan para pengungsi yang baru datang dari Myanmar. Mereka diharuskan menerbitkan kartu identitas yang berisi informasi nama, tanggal lahir, dan usia dari para pengungsi. Kartu tersebut diberikan untuk mengidentifikasi mereka sebagai ‘Warga Negara Myanmar’.
Sebagaimana diketahui, etnis Rohingya di Myanmar tidak mendapatkan hak dasar mereka sebagai warga negara selama puluhan tahun. Meski mereka lahir dan besar di Rakhine, sebagian besar etnis Rohingya dicabut kewarganegaraan mereka saat sensus penduduk 1982 sehingga berstatus ‘stateless’ alias tidak punya kewarganegaraan.
(Wikanto Arungbudoyo)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.