Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Danau Semayang Kukar, Sumber Kehidupan Warga yang Dihantui Penyetrum Ikan

Bambang Ir , Jurnalis-Minggu, 22 Oktober 2017 |08:23 WIB
Danau Semayang Kukar, Sumber Kehidupan Warga yang Dihantui Penyetrum Ikan
Nelayan di Danau Semayang (Bambang/Okezone)
A
A
A

KUTAI KARTANEGARA - Semayang merupakan satu dari delapan desa di Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur. Berjarak tempuh sekira 2,5 jam dari Tenggarong, Ibu Kota Kukar, Semayang memiliki potensi perikanan air tawar yang sangat melimpah karena lokasinya tepat berada di bibir Danau Semayang.

Danau Semayang merupakan danau terbesar di Kukar dengan luas sekira 13.000 hektare. Seluas mata memandang hanya hamparan air tanpa batas dengan beberapa gulma air yang mengapung seperti eceng gondok. Danau dalam bahasa Kutai disebut dengan kenohan.

Danau Semayang sendiri, menjadi tempat berkembang biaknya ikan air tawar seperti Patin, Bilis, Gabus, Toman, Biawan, Puyu, Lais, dan Belida, Lais, Kendia, Lepok dan Repang.

Hampir sebagian besar penduduk di Desa Semayang bermata pencaharian sebagai nelayan dan bertani. Jika Danau Semayang dalam kondisi banjir, maka warga akan bekerja mencari ikan dan di musim kemarau Danau Semayang akan mengering hingga bisa dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam padi dan jagung.

Danau Semayang dalam kondisi air sedang dalam, maka dapat dipastikan ikan-ikan yang ditangkap nelayan akan melimpah ruah. Bahkan dalam satu hari, seorang nelayan bisa membawa pulang ikan dari berbagai jenis hingga puluhan kilogram.

Cara menangkap ikan yang dilakukan nelayan di Danau Melintang dilakukan secara tradisional, yang paling sering dilakukan dengan cara sawaran dan merempa. Prinsip kerja dari sawaran adalah menghadang gerombolan ikan agar yang masuk ke dalam jala yang dibuat berkamar-kamar. Alat tangkap ini dipasang secara menetap di dalam air sepanjang 100 meter.

Sedangkan merempa adalah menghalau ikan menggunakan jala secara bersama-sama yang dilakukan oleh sekelompok nelayan berjumlah lima sampai 10 orang dengan membuat lingkaran besar, selanjutnya mereka bersama-sama memukul-mukul air hingga membuat kumpulan ikan menjadi panik, kegiatan memukul air terus sambil berjalan hingga lingkaran jala menjadi kecil dan akhirnya ikan bisa ditangkap.

Seorang warga Desa Semayang, Sulaiman mengatakan, jika sedang musim ikan, maka harga ikan atau dalam bahasa Kutai disebut jukut, akan menjadi sangat murah, bahkan nyaris tidak berharga. “Untuk jukut seperti Biawan, Kendia dan Repang harganya hanya Rp3 ribu per kilo, itu juga sudah mahal. Begitu juga jukut ruwan (Gabus) dan Toman paling mahal Rp15 ribu per kilo,” katanya beberapa waktu lalu.

Sebagian besar ikan hasil tangkapan, dijual langsung kepada pengepul yang datang dari Tenggarong dan Samarinda. Sebagiannya lagi diolah menjadi ikan asin lalu dikirim ke Pulau Jawa.

Namun, di balik potensi danau yang luar biasa ini, ada permasalahan yang sangat mengganggu para nelayan yakni ulah para pencari ikan dengan cara disetrum. Mereka ingin mendapatkan hasil yang banyak dengan cara yang mudah cepat namun membahayakan habitat ikan. “Memang hasil yang didapat banyak dan ikannya besar-besar tapi ikan yang kecil-kecil juga ikutan mati,” katanya.

Parahnya, para penyetrum ini tak hanya menggunakan setrum dari aki motor yang kekuatan dayanya terbatas, tetapi menggunakan mesin genset yang daya setrumnya lebih kuat. “Hingga ikan dari yang besar sampai yang kecil mati semua. Persoalannya hanya ikan yang besar diambil sedangkan ikan kecil dibiarkan saja,” jelasnya.

Ia mengatakan para penyetrum ikan ini mulai bekerja pada malam hingga pagi hari, jumlahnya tak tanggung-tanggung bisa mencapai puluhan orang. Mereka itu merupakan warga dari desa-desa di sekitar Danau Semayang.

Untuk itu, dia berharap kepada Dinas Perikanan Kukar dan pihak Kepolisian bisa menertibkan para pelaku yang mencari ikan dengan cara tak bertanggung jawab ini. “Kalau mencari ikan dengan cara yang merusak ini dibiarkan saja, ikan-ikan di Danau Semayang lama-kelamaan akan punah,” keluhnya.

Sementara itu, pihak Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Kutai Kartanegara tak berdaya menindak para penyetrum ikan. Mereka beralasan penegakan hukum merupakan ranah kepolisian. “Kita tidak punya kewenangan menindak penyetrum ikan, yang bisa menindak tegas adalah aparat kepolisian,” kata Sekretaris DKP Kukar, Dadang S.

Ia mengakui praktik mencari ikan menggunakan setrum masih marak terjadi. Kondisi ini mengancam populasi ikan. “DKP hanya bisa mengimbau. Kami berpesan untuk setop menangkap ikan dengan menggunakan setrum,” imbuhnya.

Dikhawatirkan jika praktik ini terus dibiarkan maka populasi ikan semakin berkurang dan predikat Kukar sebagai daerah penghasil ikan di Kaltim akan bergeser. “Kita tidak mau Kukar krisis ikan ke depannya,”paparnya. (sal)

(Ulung Tranggana)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement